Napi Teroris di Lapas Papakelan Mengaku Tobat dan Senang Terima Remisi

oleh -
Panji ketika menerima remisi selama 2 bulan yang diserahkan PJ Bupati Minahasa Roy Mewoh, kemarin.
Panji ketika menerima remisi selama 2 bulan yang diserahkan PJ Bupati Minahasa Roy Mewoh, kemarin.(carren)

TONDANO–Panji Koko Kusumo,27, salah satu Narapidana (Napi) di Lapas
Klas IIB Papakelan sedikit melempar senyum ketika menerima remisi
selama 2 bulan, dalam upacara bendera di Lapas kemarin.
Menarik karena pria berkulit sawo matang ini merupakan satu-satunya
Napi Teroris yang mendapat remisi karena mau mengakui Kedaulatan NKRI.
Sementara Napi Teroris lainnya, Ibnu tak mendapat remisi dan bahkan
berada di ruang isolasi karena sampai saat ini tak mau mengakui
kedaulatan NKRI.
Panji mengaku sudah 1 tahun 1 bulan berada di Lapas Papakelan, setelah
sebelumnya ditahan di Mako Brimob. Pria berkacamata ini mengaku senang
berada di Lapas Papakelan karena para warga binaan yang mayoritas
warga Minahasa sangat ramah. “Narapidana disini sangat kompak dalam
hal kebaikan. Udara disini juga sangat sejuk,” bebernya.
Sedikit mengorek kebelakang, Napi Teroris dari jaringan ISIS ini
mengaku tertangkap Densus 88 pada 2016 usai membeli senjata api jenis
Revolver dan FN di Palembang. “Kami akan ke Malang, tapi transit di
Jakarta, kemudian naik kereta. Di Stasiun Kroya saya dan satu orang
lainnya tertangkap,” urainya.
Ditanya latar belakang pembelian senjata ini, Panji mengaku karena ada
suatu rencana. “Dulu masih di Aliran ISIS menilai pemerintah tidak
benar. Karena itu ISIS berniat menumpahkan darah pemerintah,” ucapnya.
Panji juga sempat dekat dengan Abu Bakar Baasyir. Sejak 2004 dia
dikirim keluarganya ke Pesantren di Solo, 2008 Kuliah Jurusan Bahasa
Arab, dan 2010 mulai
mengenal gerakan radikal di timur tengah. “Saya
tidak sempat kesana, hanya pengenalan dari media masa dan di
pengajian-pengajian umum. Disitu saya dekat dengan Abu Bakar Ba’asyir.
Rutin mendengarkan fatwa mereka sehingga terbentuk dan menetapkan
langkah menuju syariat Islam,” ungkapnya.
Dia juga mengaku sempat mengajar di Pesantren Ansharut Ciamis.
“Walaupun tidak mengenal satu sama lain namun kami punya satu visi dan
misi. Mereka sempat melakukan Amaliad Januari 2016 di Starbuck dan
Thamrin,” beber Panji.
Kini Panji mengaku sadar akan kekeliruan paham yang dianutnya. “Memang
Indonesia ini bukan lading untuk berjihad. Memang mayoritas Muslim
tapi masih bisa diajak bertoleransi dalam kedaulatan karena banyak
keanekaragaman.
Masa Tahananya sampai Mei 2020. Panji pun mengaku sudah menyusun
rencana untuk hidup lebih baik kedepan. “Saya mau megurus masa depan,
mengurus usaha, berkeluarga. Urusan diluar itu saya lepas tangan.
Setelah bebas saya akan kembali kepada Negara seutuhnya dengan taat
dan mematuhi aturan dan hukum yang berlaku. Membantu orang tua dan
juga membantu merenovasi rumah untuk perbaikan,” harapnya. (carren)