MAKIN BANYAK, MAKIN SULIT

oleh
Dr.dr.Taufiq Pasiak, M.Kes., M.Pd. (Behavioral Neuroscientist) Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat  Universitas Sam Ratulangi Manado

TIGA hari lalu saya mengantar anak perempuan saya ke sebuah salon untuk melakukan creambath. Setelah rambutnya dicuci si penata rambut bertanya: “mau pakai apa?”. Sebagai orang yang belum pernah melakukan creambath saya bingung atas pertanyaan ini. Untuk menutupi ketidaktahuan itu saya menjawab serius: “terserah saja”.

Padahal saya sendiri tidak tahu apa yang saya maksudkan dengan terserah itu. Si Penata melanjutkan pertanyaan dan mungkin bermaksud membantu saya: “Mau pakai lidah buaya atau madu”, katanya. “Waduh, apa lagi ini”, kata saya dalam hati. “Atur saja mana yang paling bagus”, kata saya pada anak saya (sekali lagi, untuk menutupi ketidaktahuan ini).

“Atau mau pakai ginseng”, lanjut si penata rambut lagi. “Astaga, betapa sulitnya melakukan kegiatan sederhana ini”, saya mulai menggerutu dalam hati atas ketidaktahuan ini. Akhirnya, “pakai ginseng saja,” kata saya. Pilihan ini didasari pengetahuan medis saya tentang khasiat ginseng. Padahal saya sendiri tidak tahu apakah ginseng yang berkasiat diminum itu sama juga kasiatnya ketika dipakai di rambut.

Sepulang dari salon itu, sepanjang jalan, pikiran saya berkecamuk tentang apa yang barusan saya rasakan itu. Ternyata, makin bertambah jumlah pilihan, makin sulit saya memilih. Ketika masih lidah buaya dan madu otak saya masih nyaman menentukannya. Namun, ketika disodorkan pilihan ginseng saya rasakan makin keras otak saya bekerja. Ternyata, memilih 1 di antara 2 pilihan jauh lebih mudah (dan nyaman rasanya) dibandingkan memilih 1 di antara 3, 4 apalagi 5. Tentu, kerumitan ini tak akan terjadi pada binatang. Rasa bingung dan tak nyaman tak akan dialami oleh binatang akan beragamnya pilihan.

Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan kita semua—saya dan anda—bahwa memilih atau kemampuan untuk memilih adalah ciri paling penting yang membedakan manusia dengan binatang. Memilih dan kecerdasan kita menentukan pilihan-pilihan dalam hidup akan berkaitan dengan kenyamanan, keenakan atau bahkan kebahagiaan kita. Kita yang salah menentukan pilihan akan merasakan segala resiko yang timbul akibat pilihan itu. Andai Anda hendak membeli seekor ikan yang Anda tahu sangat enak dan bergizi—katakanlah ikan goropa—tetapi sang penjual menawarkan Anda (dengan banyak rayuan dan sedikit memaksa) ikan cakalang maka Anda akan merasakan ketidaknyamanan, padahal Anda belum memutuskan membeli yang mana.

Sebuah hak memilih yang diganggu (belum diambil atau dibeli) sudah menimbulkan perasaan tidak nyaman. Oleh karena suatu sebab—misalnya karena harga ikan cakalang itu lebih murah—akan memutuskan untuk membeli ikan cakalang. Apa yang terjadi? Dua kemungkinan yang Anda rasakan; tidak puas karena tidak mendapatkan apa yang Anda inginkan dan lebih tidak puas lagi karena Anda menikmati ikan yang bukan pilihan Anda semula.

Tahukah Anda bahwa persoalan memilih yang tampak sederhana itu memiliki sejarah panjang dalam perkembangan otak manusia? Sejumlah besar penelitian berhasil menemukan bahwa bagian otak yang mengurus ‘kemampuan memilih’ ini hanya bekembang dengan sempuna pada otak manusia. Bagian yang bernama cortex pefrontalis (CPF) unik pada otak manusia. Susunan sel-selnya dan fungsi-fungsi yang dilakukan merupakan kegiatan yang mencirikhasi manusia. Memilih, membuat rencana dan mengambil keputusan adalah tiga kegiatan yang menjadi keunikan otak manusia, dan karena itu membedakan manusia dengan hewan.

Dengan bahasa yang lebih sederahana dapat dikatakan bahwa jika manusia kehilangan tiga kemampuan ini, maka tindak-tanduk manusia tak ubahnya dengan tindak tanduk binatang. Kasus-kasus kedokteran yang didokumentasikan dengan baik perihal orang yang mengalami kerusakan CPF ini memperlihatkan bagaimana orang tersebut kehilangan ciri-ciri sebagai manusia. Memilih—dengan demikian—adalah kegiatan yang tidak saja bersifat psikologis, tetapi juga antropologis, ekonomis, politis dan budaya. Ini dapat terjadi karena manusia hidup dalam ruang yang tak kosong. Di dalam ruang itu ada budaya, ada politik, ada ekonomi dan lain-lain. Bertumpu pada kebebasan memilih, maka manusia harus piawai menggunakan aspek-aspek lain dalam penentuan pilihan.

Mari kita pertimbangkan pertanyaan berikut: 1) ketika harus memilih di antara banyak pilihan, manakah yang lebih kuat berkecamuk dalam pikiran Anda, membandingkan kekurangan masing-masing pilihan ataukah membandingkan kelebihannya?, 2) apakah alasan Anda memilih sebuah mobil sama dengan alasan Anda membeli HP? 3) apakah dasar keputusan Anda memilih calon gubernur A sama dengan dasar keputusan Anda memilih makanan sehat untuk anak-anak Anda? 4) Apakah dengan bertambahnya pilihan membuat Anda lebih bebas memilih, atau malah membuat Anda makin tidak bebas?

Dalam menjawab pertanyaan di atas kecerdasan, wawasan, pengalaman hidup dan rujukan akan sangat menentukan. Memilih dan membuat keputusan secara cepat sangat ditentukan seberapa besar dan luas hal-hal yang saya sebut di atas telah Anda miliki. Meski ada yang kita sebut sebagai pilihan intuitif, misalnya karena Anda telah memiliki banyak pengalaman tentang suatu hal, tetaplah kecerdasan memilih merupakan ketrampilan tersendiri.

Orang-orang yang memilih dan membuat keputusan secara cepat (yang tampak seperti sebuah spontanitas) sesungguhnya melakukan hal itu setelah adanya pengalaman panjang yang tersimpan dalam ingatan jangka panjang. Pilihan cepat juga bisa merupakan pilihan tidak cerdas. Ini terjadi ketika seseorang mengalami manipulasi dari luar dirinya. Ketampanan atau kecantikan atau tampilan luar adalah sedikit di antara banyak variabel yang dapat membuat orang memilih spontan meski keliru. Dengan memahami ini pilihan-pilihan spontan dapat direkayasa.

Iming-iming yang menyenangkan (uang, makanan, mobil baru, dll) juga memiliki potensi mengacaukan pilihan spontan. Anda perhati-kan bagaimana iklan-iklan di televisi mem-bangun hubungan bawah sadar dalam pembuatan keputusan. Jika Anda diperhadapkan pada situasi memilih sabun kecantikan A atau B, maka seberapa kuat bintang iklan sabun itu, Luna Maya atau Sophia Latjuba, berada dalam benak Anda, maka pilihan itulah yang akan Anda buat. Ini bukan soal Luna Maya atau Sophia Latjuba, tetapi seberapa soal kesan yang tertanam dalam benak Andalah yang menentukan pilihan itu. Kesan-kesan kecil yang tertanam begitu kuat dapat mengalahkan pengaruh besar yang diberikan tanpa berkesan.

Otak manusia memiliki mekanisme memilih yang melibatkan infomasi-informasi lama yang disimpan dalam repertoar memori jangka panjang dan informasi baru yang disimpan dalam repertor memori jangka pendek. Kombinasi memori inilah yang membangun kecerdasan memilih. Manipulasi terjadi ketika memori jangka pendek mendominasi kerja otak. Hebatnya lagi, memori jangka pendek dapat dimanipulasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan. Salah satu contoh terbesar adalah brainwashing tentara Amerika ketika terjadi Perang Korea.

Kehilangan identitas dan diganti dengan identitas baru memungkinkan seseorang kehilangan kemampuan memilih. Ketika ini terjadi seseorang sebenarnya sedang kehilangan kemanusiaannya, diri sejatinya. Tidak usah heran—seperti yang kita saksikan setiap hari di televisi soal demonstrasi di pelbagai daerah—kekacauan terjadi karena pada saat memilih kepala daerah kita semua sedang menghilangkan identitas kita masing-masing. Jangan marah, jangan kecewa, jangan bikin kacau, jangan menangis, karena kita telah memilih untuk dimanipulasi (25/08/18).