Karena itu, pihaknya hadir di Manado untuk mengedukasi pelaku usaha di Sulut terkait IEU CEPA serta manfaatnya.“Kita lakukan sosialisasi untuk memberikan gambaran kepada pengusaha apa itu IEU CEPA dan apa keuntungan yang bisa diambil dari perjanjian ini,” tuturnya.

Sebab kata dia, nantinya yang akan menjalankan perjanjian tersebut adalah pengusaha dengan sistem business to business (B to B). karenanya pengusaha mesti tahu sektor apa saja yang harus dikembangkan.

“Di sini pemerintah yang menegosiasi dan yang menjalankan menjalankan adalah pengusaha.

Dia menyebutkan, jika pasar antara Indonesia dan Uni Eropa sudah terbuka, maka eksportir di Sulut akan mendapatkan banyak keuntungan. Dimana akan ada kebijakan tarif ekspor produk ke uni eropa akan jauh lebih murah. “Karena kalau pasar sudah dibuka kita bisa ekspor lebih besar dengan tarif yang jauh lebih murah yang hampir nol persen. Jadi kita mesti siap,” terangnya.

Tak hanya itu kata dia, lewat kerjasama ini juga pemerintah dapat menarik investasi masuk ke daerah.

Ketua Apindo Sulut Nicho Lieke menerangkan, pengusaha di daerah harus menangkap peluang kerjasama lewat pengembangan produk lokal untuk komoditi ekspor.

“Sulut dikasih kesempatan untuk memimpin, maka harus dipergunakan sebaik mungkin,” tuturnya.

Nicho menyebutkan sektor yang dapat menjadi andalan di Sulut untuk dijual ke pasar Eropa adalah pariwisata, kelapa, perikanan dan bioetanol. “Tinggal kita membuat gebrakan bagaimana, apalagi kata kuncinya tadi 95% dari tarif ekspor bahkan bisa sampai nol,” tuturnya.

Hanya saja kata dia, untuk saat ini harga kopra sedang turun dan tidak menguntungkan petani di daerah. Makanya dia mengusulkan peran aktif pemerintah harus dimaksimalkan untuk mengangkat harga kopra yang turun terlalu dalam.

“Kopra lagi turun, dalam sejarah belum pernah turun ke Rp4.000 per kg biasanya hanya sekitar Rp6.000. Jadi kita perlu mekanisme supaya bagaimana harga itu stabil,” tambahnya. (stenly sajow)