Pengamat Prediksi Uang Beredar saat Pengucapan Syukur Capai Rp1,5 Triliun

oleh -
Selain Dodol, Nasi Jaha juga menjadi kue andalan saat merayakan pengucapan syukur. istimewa

MANADO—Dosen Ekonomi Universitas Negeri Manado Robert Winerungan memprediksi perputaran rupiah saat musim Pengucapan Syukur di Sulawesi Utara (Sulut) bisa mencapai Rp1,5 triliun.

Winerungan beranggapan, jika 1,5 juta masyarakat Sulut  merayakan pengucapan syukur dengan pengeluaran rata-rata per orang mencapai Rp1 juta. Maka didapat angka Rp1,5 triliun.

“Untuk memprediksi perputaran uang mesti mengacu pada berapa base line uang yang beredar setiap hari. Secara kasar jumlah uang yang beredar saat pengucapan syukur kalikan jumlah penduduk yang merayakan pengucapan syukur dengan minimal Rp1 juta. Jadi jika yang merayakan pengucapan syukur sebesar 1,5 juta penduduk kali minimal Rp1 juta maka ada 1,5 triliun uang yang beredar,” ujar Winerungan, Senin, 8/7/2019.

Menurut dia, perayaan pengucapan syukur memang akan meningkatkan kegiatan ekonomi di Sulut. Sebab kata dia, budaya tersebut secara otomatis meningkatkan daya beli masyarakat, bukan hanya pada kaum menengah atas akan tetapi pada semua kalangan masyarakat.

Sudah pasti kata dia, pengucapan syukur akan mendorong konsumsi masyarakat khususnya pada sektor makanan dan minuman.

“Biasanya kalau hari biasa hanya satu  kilogram beli daging, tapi saat pengucapan bisa tiga sampai lima kilo, belum lagi dengan beras, minuman ringan, dan bahan makanan lainnya,” jelasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia menilai,  pengucapan syukur di Provinsi  di Sulut bisa mendorong terjadinya inflasi. Kepala perwakilan bank Indonesia Provinsi Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan, meskipun tren inflasi di 2019 menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Namun demikian,  tidak boleh lengah dan cepat puas diri.

“Perayaan Pengucapan Syukur di tingkat kabupaten dan kota  adalah bagian dari momentum yang harus senantiasa kita kawal agar inflasi terkendali pada level yang rendah dan stabil,” jelas Hutabarat.

Dia mengatakan, tantangan utama yang  hadapi adalah menjaga inflasi komoditas pangan strategis di Sulut yaitu komoditas bawang, cabai dan tomat (Barito). Komoditas itu dinilai dapat memberikan tekanan inflasi yang cukup tinggi pada kurun waktu tiga tahun terakhir. (stenly sajow)