Oknum Pegawai UNIMA Tondano Remehkan Seorang Perempuan saat Wisuda, Terancam Penjara

oleh -
Wisuda UNIMA di Tondano. (FOTO: Ist)

MINAHASA- Oknum pegawai UNIMA Tondano inisial HK alias Hengky diduga melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan alias meremehkan seorang perempuan Carren Pandeiroth yang juga sebagai undangan pada Wisuda, Kamis (26/9/2109) di Auditorium Unima.

Pandeirot mengatakan, kronologis kejadian dimana karena auditorium sudah penuh dia bersama ratusan undangan lainnya duduk diruangan lobi di tempat duduk yang sudah disediakan.

” Saya duduk bersebelahan dengan papa saya. Sekitar setengah jam wisuda dimulai, papa saya ke toilet sehingga tas saya, ditaruh di kursi tempat duduknya. Tiba-tiba datang Hengky meminta kursi yang diduduki papa saya. Saya langsung bilang, ” maaf om, ada orang duduk disini, ini di belakang ada kursi kosong” sambil saya menunjuk kursi di belakan dimana ada sekitar 4 kursi kosong,” jelas dia.

Lanjut dia, namun bapak tersebut tidak menghiraukan bahkan dia melempar tas saya dan mengangkat kursi tempat papa saya duduk.

”Dengan arogannya, bapak tersebut berkata ‘Saya Pegawai Unima’, kemudian dia membawa kursi ke lobi Auditorium,” ungkapnya.

Kejadian ini sontak membuat heboh diantara tamu undangan yang berada di lokasi tersebut.

”Saya sempat mengejar bapak tersebut untuk mengambil fotonya namun beliau sudah masuk ke lobi sementara saya tidak bisa masuk ke situ karena ada security. Saya hanya menanyakan nama pegawai tersebut ke security,” ujarnya.

Pandeiroth mengaku sangat menyesalkan kejadian ini. Apalagi tas yang lempar terdapat benda berharga seerti kamera, handphone dan gadget lainnya.

”Beginikah cara tuan rumah memperlakukan tamu undangan? Institusi pendidik selevel Unima, kok mempunyai oknum pegawai searogan itu. Rektor atau pihak Rektorat harap mendidik pegawainya agar tidak arogan.” ungkap Pandeiroth yang juga alumni Unima ini.

Dia berharap Rektorat juga bisa berbenah soal kualitas kegiatan sidang senat terbuka. ”Kalau kapasitas gedung tidak bisa menampung 1.000 wisudawan dan 2.000 undangan orang tua maka sebaiknya kurangi kuota wisuda jadi 300 saja. Atau bisa 1.000 wisudawan tapi lokasi kegiatannya dipindah ke gedung yang memadai,” usulnya.

Selain itu pemandangan tidak menyenangkan terlihat juga di Balkon Audiotorium. dimana sejumlah undangan yang berniat hadir untuk melihat keluarganya diwisuda sampai menggelantung di balkon karena tempat duduk sudah tidak tersedia.

Saat berita ini diturunkan, dari oknum pegawai atau pun pihak Unima belum ada tanggapan. (valentino warouw)