15 Ormas Tuntut Pembatalan Putusan Penggusuran GPdI Tingkulu di PN Manado

oleh -
Ratusan anggota ormas yang datang ke PN Manado membawa serta penari kabasaran. (ilona piri)

MANADO – Pascaputusan Pengadilan Negeri (PN) Manado terkait sengketa tanah yang berujung rencana penggusuran gereja GPdI di Tingkulu, 15 organisasi masyarakat (ormas) datangi PN Manado, Selasa (19/11/2019).

Turut hadir pula pendeta gereja tersebut. Dalam orasinya massa menuntut PN Manado membatalkan putusan penggusuran.

Tonaas Wangko (Ketua) Laskar Manguni Indonesia, Hanny Pantow menyebutkan poin tuntutan dan meminta ketua pengadilan keluar menemui massa.

“Kami gabungan 15 ormas yang datang hari ini meminta pengadilan membatalkan putusan eksekusi gedung GPdI Elgibor Tingkulu. Kami datang dengan damai atas dasar keprihatinan kami dengan adanya putusan penggusuran rumah ibadah. Tidak hanya gereja, rumah ibadah apapun itu jika hendak digusur pasti kami bela. Kami juga meminta ketua pengadilan keluar menemui kami saat ini,” serunya melalui megafon.

Menurut Pantow, kemarin (19/11) merupakan jadwal eksekusi lahan. Ormas gabungan sebelumnya berada di kawasan gereja bersiap menghadang penggusuran, namun karena batal dieksekusi ormas beralih ke PN Manado menuntut pembatalan putusan.Mereka mengaku tak gentar meski pihak yang memenangkan putusan mengatakan bahwa putusan telah inkrah.

Tampak ratusan orang hadir saat aksi di PN merupakan massa dari gabungan ormas diantaranya LMI, M3, Manguni Hitam, Manguni Esa, LPM, OKLBI dan organisasi lainnya. Perwakilan ormas secara bergantian menyuarakan tuntutan. Mereka mengatakan jika putusan eksekusi tetap dijalankan, mereka tetap hadir untuk menghadang.

Usai menyampaikan tuntutan pihak pengadilan mengizinkan 15 orang perwakilan ormas dan pendeta GPdI Elgibor Tingkulu masuk menemui ketua PN Manado. Massa kemudian diterima di ruang sidang.

Ketua PN Manado, Lukman Bachmid mengatakan, pihak pengadilan tidak menguji putusan, tapi melaksanakan.

“Kami menerima dengan baik yang hadir hari ini tapi pengadilan tidak bisa menguji putusan, tugas kami adalah melaksanakan. Putusan pengadilan sudah inkrah, ini masalah hukum dan siapa yang berhak atas tanah. Tapi kami putuskan akan mengupayakan mediasi antar pihak gereja dengan yang bersengketa,” ujarnya di sela pertemuan.

Perwakilan ormas yang hadir akhirnya sepakat setelah mendengar rencana PN Manado akan membantu mediasi.

Sementara itu Pendeta GPdI Elgibor Tingkulu, Yos Losa mengatakan tanah awalnya dibeli gereja seluas 500 meter, dan bangunan gereja telah berdiri sejak 2002.

“Awalnya ada 40 kepala keluarga beribadah, setelah mendengar rencana penggusuran jemaat mulai banyak yang berpindah, saat ini ada 25 kepala keluarga yang kami layani. Kami berharap penggusuran tidak jadi dilaksanakan dan kami bisa tetap beribadah di gereja,” terangnya.

Didampingi istri, Losa mengungkap dirinya lega hasil pertemuan pihak PN Manado akan mengupayakan mediasi. Dirinya berharap ada putusan tebaik bagi gedung gereja pada mediasi nantinya. (ilona piri)