Gugus Tugas Covid-19 Sulut Jelaskan Soal Insiden di RS Pancaran Kasih

oleh -
dr Steaven Dandel. (FOTO: Fernando Rumetor)

MANADO— Warga Manado dikejutkan dengan beredarnya video viral yang menunjukkan adanya kerumunan orang yang berada di sekitar rumah sakit (RS) Pancaran Kasih pada Senin (1/6/2020).

Dalam  video itu menunjukkan seorang pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal di RS Pancaran Kasih dibawa langsung oleh pihak keluarga untuk disemayamkan serta dimakamkan sendiri.

Dalam video tersebut juga beredar bahwa pihak keluarga dikatakan mendapat sejumlah uang dari RS Pancaran Kasih agar anggota keluarganya tersebut dimakamkan dengan status PDP dan menggunakan protap Covid-19.

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel menegaskan bahwa yang sebenarnya terjadi pada kejadian adalah kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

“Yang terjadi adalah kesalahpahaman antara apa yang menjadi SOP di rumah sakit dan persepsi dari keluarga,” ujarnya saat konferensi video, Selasa (2/6/2020).

Dandel membeber bahwa terjadinya kesalahpahaman terkait pemberian uang jasa bagi tenaga rohaniawan yang dipanggil oleh RS Pancaran Kasih untuk memandikan dan mensalatkan jenazah.

“Pemberian uang itu merupakan SOP tetap mereka berdasarkan surat dari manajemen rumah sakit, bahwa ketika mereka memanggil rohaniawan untuk melayani jenazah yang perlu dilakukan pemulasaran terkait protokol Covid-19 ini, maka ada jasa yang mereka berikan kepada rohaniawan tersebut,” jelas Dandel

Akan tetapi, kata Dandel, ketika saat di ruang jenazah dan petugas memakai APD lengkap, terjadi kesalahpamahan yang dikira oleh keluarga bahwa adanya upaya untuk membujuk pihak keluarga untuk menerima status yang bersangkutan sebagai PDP.

“Itu bukan pembayaran bukan membujuk, tetapi sudah merupakan SOP dari rumah sakit sebagai jasa bagi pihak rohaniawan,” tegasnya.

Lanjut Dandel, rupanya salah satu yang diberikan uang jasa tersebut merupakan pihak keluarga, dimana pada saat itu pihak keluarga juga berada di ruang jenazah. “Dimana dianggap oleh pihak rumah sakit merupakan bagian dari kelompok rohaniawan, ini yang terjadi sehingga menyebabkan situasi yang tidak terkendali kemarin,” ungkapnya.

“Kami menegaskan kepada teman-teman yang berada di rumah sakit terutama tim Covid-19, agar mengupayakan komunikasi yang paripurna dan tuntas kepada keluarga. Serta mengedukasi serta menjelaskan status dari PDP, dan SOP yang berada di rumah sakit itu juga dijelaskan secara tuntas,” tukas Dandel.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Sulut itu menegaskan bahwa hal tersebut penting dilakukan agar semua proses yang ada dapat dipahami secara baik oleh pihak keluarga, dan tidak menjadi asumsi yang kemudian bisa menjadi sangat berbahaya.

“Tentunya ada evaluasi dan tindakan kedepan yang akan dilakukan oleh Gugus Tugas Covid-19 Pemprov Sulut dan Gugus Tugas Covid-19 Pemkot Manado untuk menyempurnakan prosedur yang ada di lapangan sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tambahnya. (Fernando Rumetor)