GMIM Wacanakan Buka Kembali Gereja pada Juli 2020, Anak-Anak, Lansia dan Jemaat yang Sakit Ibadah dari Rumah

oleh -
Kantor Sinode GMIM. (FOTO: Istimewa)

MANADO – Memasuki era new normal atau tatanan kehidupan baru, masyarakat harus mulai beradaptasi dengan virus korona (Covid-19). Atas dasar itu, Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) mewacanakan peribadatan kembali di dalam gereja secara berjemaat pada awal Juli 2020 melalui Surat Nomor K.0700/PPD.VII/06-2020 yang dikeluarkan sinode pada 19 Juni 2020.

Ketua Sinode GMIM Pdt Hein Arina melalui Sekretaris Sinode GMIM Pdt Evert Andri Alfonsius Tangel mengatakan, sejak Maret lalu seluruh kegiatan ibadah di semua lingkup pelayanan GMIM telah dilaksanakan di rumah masing-masing. Masuki era new normal ini, kata dia, GMIM akan selalu berkoordinasi dengan pemerintah untuk bisa melakukan ibadah kembali di gereja dengan protokol kesehatan.

“Sejak saat itu beragam kegiatan ibadah dilaksanakan secara virtual entah melalui pengeras suara ataupun secara live lewat media sosial. Hal ini tentunya dilakukan untuk mengikuti kebijakan pemerintah. Untuk melakukan ibadah di gereja kembali, GMIM telah memberikan pedoman refungsionalisasi bertahap gedung gereja dan ibadah minggu pada masa transisi. Di dalamnya tertuang tentang konsep ibadah yang sesuai kondisi saat ini, dan di dalam pedoman ini BPMJ akan selalu berkoordinasi dengan pemerintah setempat tentang tata pelaksanaannya dan bisa atau tidaknya ibadah di gereja dilangsungkan, ”ucapnya kepada KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM, Minggu (21/6/2020).

Adapun, pedoman tersebut bersumber dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan berdasarkan SK MENKES RI Nomor HK.01.07/MENKES/382/2020 Tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019. Poin pentingnya, jemaat sudah harus memperoleh surat keterangan berdasarkan verifikasi kelayakan ibadah dari Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19, ruang ibadah sebelum dan sesudah dipakai harus disemprot disinfektan, bagi kehadiran di gedung gereja, dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama pelayan khusus (Syamas, Penatua, Guru Agama dan Pendeta). Jika Jumlah kolom lebih dari sepuluh, maka ibadah dilaksanakan dengan jumlah kehadiran tidak lebih dari 30 orang setiap ibadah. Tahap kedua, kehadiran jemaat 40% sesuai kapasitas ruangan ibadah. Jika jumlah jemaat melebihi 40% kapasitas ruangan ibadah, maka ibadah dapat dilaksanakan dua atau tiga kali (Subuh, pagi, sore/malam), jarak sosial diberlakukan dan bagian balkon ruangan Ibadah tidak difungsikan sebagai tempat duduk jemaat. Selain itu, anggota jemaat yang lanjut usia dan anggota jemaat yang memiliki gejala demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan dan sesak napas, pelayan Khusus hendaknya memberi pengertian agar mereka dapat mengikuti peribadatan dari rumah masing-masing secara virtual maupun pengeras suara atau dengan cara kreatif lainnya. Diharapkan untuk belum membawa anak-anak dan pihak gereja menyediakan thermoscan/alat pengukur,  fasilitas cuci tangan disediakan, menggunakan masker selama berada di dalam maupun di luar gereja.

“Dan untuk panduan pelaksanaan ibadah dimana ibadah dilakukan dengan durasi maksimal 60 menit, tidak ada puji-pujian sebelum dan sesudah khotbah, dan untuk pemberian persembahan melalui kotak persembahan yang diletakkan di pintu masuk atau pintu ke luar. Anggota jemaat dapat mamasukkan persembahan waktu hendak masuk dalam ruangan gereja ataupun waktu hendak ke luar. Atau melalui virtual ke rekening jemaat/BPMJ,” jelasnya. (Clay Lalamentik)