Kapasitas Lab Jadi Kendala Utama Gugus Tugas Kendalikan Covid-19 di Sulut

oleh -
(Ilustrasi: Istimewa)

MANADO- Menurut Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dr Steaven Dandel, yang menjadi kendala utama saat ini di Sulut dalam hal pengendalian penyebaran Covid-19 adalah kapasitas pemeriksaan sampel swab di laboratorium-laboratorium yang ada di Sulut.

Pasalnya, hingga saat ini, antara jumlah sampel swab yang bisa diperiksa dan didapatkan hasilnya dengan jumlah sampel swab yang dikirimkan Gugus Tugas Covid-19 Sulut ke lab-lab pemeriksaan tersebut belum seimbang.

“Kapasitas lab kita belum memenuhi demand (Permintaan). Karena permintaan sekarang itu sehari bisa sampai 500 sampel, sementara kita masih berupaya terus mendorong setiap harinya dua lab yang ada untuk mendapatkan hasil sekira 300-an sampel,” ujarnya saat konferensi video bersama wartawan, Senin (29/6/2020). Diakuinya, agresivitas teman-teman surveilans di lapangan dalam mengambil sampel swab dari kontak erat resiko tinggi (KERT) maupun mereka yang rapid test-nya menunjukan hasil reaktif, itu memang sangat tinggi.

“Agresivitas pemeriksaan di lapangan itu lebih cepat daripada hasil sampel yang keluar. Kenapa perlu agresif? Karena kita ingin cepat untuk contain (mengisolasi),” terang Dandel.

Lanjut dia, apabila harus menunggu waktu satu hingga dua minggu baru ada hasil swab, kemudian orang yang diambil sampel swab-nya itu ternyata positif Covid-19, maka proses isolasi dari orang tersebut akan terlambat. “Itu kendala dari awal yang menyebabkan di Sulut itu nilai epidemiologinya sedikit lambat. Seperti yang saya umumkan hari ini ada 26 kasus, sebenarnya nilai epidemiologinya itu bukan perhari ini, tetapi kurang lebih satu minggu yang lalu, karena sampel swabnya kan diambil kurang lebih minggu lalu,” jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya kemudian harus mengejar lagi pemeriksaan selama tujuh hari saat menunggu sampel itu, dimana harus dilakukan pemeriksaan yang lebih luas lagi. “Nah kalau diambil sampel swab hari ini, kemudian dua hari berikutnya sudah ada hasil, waktu nilai epidemiologinya hanya pendek, kita kemudian bisa memastikan bahwa kalau dia (Pasien positif Covid-19) diisolasi cepat, maka penularannya bisa dikendalikan,” bebernya. (Fernando Rumetor)