Lama Tunggu Hasil, Pasien Covid-19 di Ruang Isolasi Makin Banyak, Gugus Tugas Keluarkan Diskresi

oleh -
Dua perawat yang bertugas menunjukkan pesan bermakna dari balik bilik ruang isolasi untuk semangat dalam merawat pasien. (FOTO: Wailan Montong)

MANADO- Petunjuk teknis (Juknis) versi lima dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang sangat dinanti-nantikan belum juga keluar, membuat makin banyak pasien yang dirawat di ruang isolasi di rumah sakit (RS) yang ada di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Pasalnya, di dalam juknis versi lima yang tengah digodok tersebut, memuat salah satu perubahan penting yang dapat meringankan beban pasien, tenaga medis dan juga tim pemeriksa sampel swab yang ada laboratorium di Sulut dan memberi kepastian bagi para pasien terkait hasil, bagi yang sudah lama dirawat.

Perubahan tersebut meliputi status terkait pasien Covid-19 untuk bisa dinyatakan sembuh, dimana sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, pasien positif yang telah dirawat di RS, kemudian setelah 10+3 hari tidak menunjukkan gejala lagi, maka pasien tersebut sudah bisa dikeluarkan dari ruang isolasi.

“Per hari Selasa lalu sudah dikeluarkan kebijakan diskresi transisi dari Juknis versi 4 dari Dinas Kesehatan Sulut, bahwa pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan lama perawatan yang sudah 30 hari di RS, tetapi lagi menunggu hasil swab konfirmasi dua kali negatif, itu bisa dikeluarkan dari ruang isolasi, di karantina mandiri di rumah selama 14 hari,” ujar Juru Bicara Gugus Tugas Sulut, dr Steaven Dandel dalam konferensi video bersama wartawan, Sabtu (27/6/2020).

Kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Sulut itu, lewat kebijakan diskresi yang dikeluarkan pihaknya, kemudian pasien positif Covid-19 dapat dikeluarkan dari ruang isolasi, dengan memperhatikan bahwa pasien itu sudah tidak bergejala lagi.

“Dengan adanya surat edaran ini, kita sudah berhasil mengosongkan beberapa ruang isolasi yang ada di RS, karena sudah 30 hari berada di RS kemudian tidak ada lagi gejala, tidak ada batuk, panas, pilek, memang sudah sehat, tetapi masih di RS karna hasil swab (Yang menunjukan sembuh) belum ada,” jelas Dandel.

Lanjut Dandel, saat ini pihaknya telah mendapat informasi bahwa Juknis versi lima dari Kemenkes yang akan mengatur tentang rekomendasi WHO ini sudah ditanda tangani oleh Menteri Kesehatan (Menkes), dr Terawan Agus Putranto.

“Juknis Kemenkes untuk perubahan terkait kriteria-kriteria discharing, keluar dari RS itu sudah ditanda tangani bapak Menteri barusan, kami akan menunggu seperti apa,” beber Dandel.

“Sehingga tentunya ke depan apabila ada perubahan kriteria untuk mengeluarkan pasien (dari ruang isolasi) tetapi di isolasi mandiri atau isolasi rumah singgah, pasti akan ada perubahan dalam satu dua hari ini berhubung Juknisnya sudah ditanda tangani,” ungkap Dandel.

Dia berharap dengan adanya Juknis versi lima ini, kedepannya para pasien Covid-19 yang ada di Sulut bisa banyak yang dinyatakan sembuh dan dikeluarkan dari ruang isolasi, karena kebanyakan pasien tersebut saat ini memang sudah tidak memiliki gejala lagi.

Sekadar diketahui, dalam juknis versi empat dari Kemenkes yang saat ini masih berlaku, seorang pasien positif Covid-19 baru bisa dinyatakan sembuh dan dikeluarkan dari ruang isolasi RS apabila hasil laboratoriumnya menunjukkan dua kali berturut-turut negatif Covid-19.

Namun, kenyataan di lapangan, hasil sampel tersebut baru bisa didapatkan sekira dua minggu, bahkan ada pasien yang harus menunggu hingga tiga minggu untuk mendapatkan hasil sampel swab-nya, karena banyaknya sampel swab yang tertumpuk di laboratorium untuk diperiksa. (Fernando Rumetor)