Permintaan Keringanan Uang Kuliah Belum Disetujui, 400-an Dokter Residen Unsrat Bakal Berhenti Layani Masyarakat

oleh -
Mahasiswa yang melakukan demo. (FOTO: Istimewa)

MANADO- Sebelumnya, para dokter residen dari Fakultas Kedokteran (Faked) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menggelar demo untuk meminta keringanan uang kuliah tunggal (UKT) atau biaya operasional pendidikan (BOP), Senin (20/7/2020) lalu. Jumat (24/7/2020), mereka pun kembali berdemo menyuarakan hal yang sama.

Diketahui, para dokter residen ini kembali berdemo karena aspirasi yang mereka sampaikan pada Senin lalu belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pihak universitas.

Dalam demo, para dokter residen yang berstatus sebagai mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS-1) ini meminta pengurangan UKT/BOP, dimana UKT/BOP yang harus mereka bayarkan sebesar Rp24 juta. Jumlah tersebut dinilai memberatkan, terlebih di tengah pandemi Covid-19 yang sementara melanda.

“Sekarang kami turun pun (Berdemo), tetap tidak ada jawaban pasti, bahwa kami akan dibantu, difasilitasi atau tidak,” ujar koordinator Forum Komunikasi Residen Faked Unsrat, Jacob Pajan kepada wartawan.

Dikatakan Pajan, pihaknya masih menunggu regulasi yang pasti dari pihak kampus terkait keputusan perpanjangan waktu pembayaran UKT/BOP maupun keringanan bagi dirinya dan teman-teman dokter residen lainnya.

“Jika tidak ada regulasi yang pasti, maka otomatis kami (Dokter residen) yang 400 sekian ini tidak dapat lagi melayani masyarakat di Sulawesi Utara, dan itu sungguh sangat disayangkan,” bebernya dalam demo yang berlangsung di depan gedung Rektorat Unsrat itu.

Selain itu juga, dirinya menilai penyampaian dari pihak rektorat dirasa berbelit-belit, terlebih ketika pihaknya ingin meminta data transparansi. Disebutkan Pajan, pihak rektorat tidak berani untuk mengatakannya.

“Kami sangat mengharapkan untuk diberikan keringanan. Sangat kami harapkan kebijakan atau inisiatif perguruan tinggi (PT) untuk aspirasi kami, karena semua mengalami hal yang sama dalam situasi Covid-19,” tambahnya.

Dalam aksi demo yang dikawal oleh pihak kepolisian dan petugas keamanan Unsrat itu, Wakil Rektor I Unsrat, Grevo Gerung, Wakil Rektor III, Ronny Gosal, serta Dekan Faked Unsrat, dr Billy Kepal pun turun langsung menemui para dokter residen.

Disampaikan Wakil Rektor I Unsrat, Grevo Gerung, kebijakan yang dikeluarkan oleh pihaknya ialah memperpanjang pembayaran hingga 5 Agustus 2020, serta memberi solusi berupa pengangsuran UKT/BOP dengan cara dua kali bayar.

“Jika ada regulasi yang keluar dari pemerintah, kita akan sampaikan, dan kita akan regulasi tersebut. Sampai sekarang (kebijakan) adalah memperpanjang pembayaran BOP dan kemudian memberi kesempatan untuk cicilan,” sebutnya.

Gerung juga menyampaikan, bukannya pihak Unsrat tidak ingin membantu para residen, akan tetapi pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena adanya peraturan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) terkait skema pengurangan BOP.

“Permendikbud ini tidak mengatur untuk mahasiswa S2, S3 dan profesi serta spesialis. Sehingga kami tidak punya dasar untuk melakukan pengurangan BOP,” ucapnya.

Adapun, agar mahasiswa bisa melakukan kegiatan perkuliahan, maka diharuskan membayar UKT/BOP tersebut, karena apabila tidak membayar, maka dirinya tidak bisa mendaftarkan para dokter residen dalam formulir laporan (Forlap) pangkalan data pendidikan tinggi (PDdikti).

“Kita kasih kesempatan bayar dulu sedikit, kemudian kita buka Forlap-nya, jadi silakan bayar dulu 50% kemudian kita buka Forlap PDdikti-nya, sisanya nanti, itu solusi kita supaya mereka aktif,” imbuh Gerung.

Sekadar diketahui, para dokter residen dari Faked Unsrat ini juga turut melayani masyarakat di bidang kesehatan, dimana mereka saat ini melayani di RSUP Prof Kandou. Beberapa dokter residen pun dikabarkan teelah tertular penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 saat mereka bertugas. (Fernando Rumetor)