BOLMONG –  Sejumlah warga tampak berdiri di atas dinding pembatas seberang sungai, menunggu giliran untuk dijemput. Di sisi lain sungai, tampak warga lainnya juga sudah menunggu antrean untuk menyeberang.

Ada yang membawa barang, bahkan ada yang sambil membawa sepeda motor. Suasana tersebut mewarnai siang mendung, Selasa (28/7/2020). Dua rakit yang disusun dari beberapa bambu muda, dialasi papan mengapung di sungai.

“Nda apa-apa (Tidak Apa-Apa) ini,” kata seorang warga yang menjadi penumpang di rakit tersebut.

“Nda apa-apa, aman!,” balas seorang lelaki bertubuh kekar, yang menarik tali tambang besar yang diikatkan di rakit. Tidak hanya itu, beberapa orang lainnya juga tampak memegangi rakit dari sudut lainnya, menjaga agar rakit bambu dibuat seadanya itu, tetap berjalan di jalurnya, membelah arus sungai yang.

Pemandangan inilah yang dilihat di bantaran sungai pembatasan Desa Kosio dan Desa Kosio Barat, Bolaang Mongondow (Bolmong). Lokasinya tidak jauh dari jembatan penghubung yang roboh akibat terjangan banjir, Sabtu (25/7/2020) lalu.

Khususnya di Desa Kosio, Kecamatan Dumoga Tengah, dari data BPBD Kabupaten Bolmong, merupakan desa yang memiliki dampak terbesar. Jembatan Kosio satu diantaranya yang alami kerusakan berat. Jembatan penghubung perekonomian warga sekitar itu roboh. Akibatnya, akses jalan satu-satunya di desa-desa yang bersebarangan, tidak ada lagi.

Di kejauhan, terlihat keramaian manusia berkerumun di sungai yang sudah surut itu, tidak jauh dari bibir jembatan yang terbelah. Wartawan KORAN SINDO  MANADO/SINDOMANADO.COM melihat langsung aktivitas yang mengundang keramaian orang itu, meski masih dalam masa pandemi Covid-19 yang mewajibkan mengikuti protokol kesehatan.

Salah satu warga Desa Kosio Roni Ering menceritakan, ini merupakan spontanitas dari warga di kedua desa bertetangga akibat jembatan yang roboh. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat yang ingin menyeberang, setelah putusnya jembatan penyambung.

“Diusulkan oleh warga, dibuat rakit untuk fasilitas penyeberangan sehari setelah banjir terjadi,” kata lelaki yang mengaku sebagai Ketua Pemuda di Desa Kosio Barat ini. Meski kegiatan ini merupakan swadaya masyarakat, kata dia, penumpang yang ingin menggunakan jasa rakit bambu untuk menyeberang, dikenakan biaya jasa penyeberangan. Maklum saja, rakit tersebut masih menggunakan sepenuhnya tenaga manusia.

“Bervariasi jasanya. Jika penyeberangan hanya orang saja, dikenakan biaya Rp5.000. Namun jika yang diseberangi adalah sepeda motor, tarifnya Rp25.000,” tuturnya. Akan tetapi tarif itu bukanlah kewajiban. Dia mengaku ada beberapa warga yang ingin menyeberang tapi dengan uang yang seadanya saja.

Sementara itu, Sangadi Desa Kosio Remi Dolot mengaku tidak ingin mencampuri aktivitas warga membuka penyeberangan di sungai dengan cara jasa rakit bambu. Menurutnya, itu adalah aksi spontanitas warga.

“Artinya dengan itu, warga mendapat penghasilan, mendapat pencaharian dari situ, sekaligus membantu warga. Artinya, kami mengimbau agar aktivitas tersebut ada yang menjadi penanggung jawabnya,” singkatnya. (Ebby Makalalag)