MANADO— Kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada November 2020 jauh menurun dibandingkan bulan yang sama pada 2019 (year-on-year), yakni sebesar 82,92%. Tercatat ada 1.582 Wisman yang mendarat di Sulut melalui Bandara Sam Ratulangi Manado pada November 2020. Melihat kondisi ini, sektor pariwisata Sulut diperkirakan akan membaik pada 2022 mendatang.

Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Norma Regar dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) Januari 2021 yang disampaikan secara live streaming lewat akun youtube BPS Sulut pada Senin (4/1/2021).

“1.582 Wisman ini juga menurun dibandingkan Oktober 2020 (month-to-month) sebesar 18,03%. Wisatawan mancanegara didominasi oleh warga Tiongkok sebesar 99,68%. Dan secara kumulatif hingga November 2020, jumlah wisman sebanyak 21.562 orang, menurun dari periode yang sama di 2019 yang mencatatkan 118.844 orang,” ujarnya.

Dirinya juga menyebut bahwa tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Bumi Nyiur Melambai pada November 2020 mencapai 51,48%. “Menurun 0,77 poin atau sebesar 1,47% dibanding TPK Oktober 2020 yang mencapai 52,25%,” beber Norma.

Secara y-o-y, TPK ini mengalami penurunan sebesar 2,18 poin atau 4,06% dibandingkan November 2019. “Untuk rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang, baik asing maupun Indonesia, di November 2020 mencapai 1,66 hari. Ini menurun 0,1 poin dibanding Oktober 2020 sebesar 1,76 hari,” ungkapnya.

Sedangkan rata-rata lama menginap tamu asing di hotel berbintang pada November 2020 mencapai 1,63 hari, meningkat 0,16 poin dibanding Oktober 2020 di angka 1,47 hari. “Sementara untuk rata-rata lama menginap tamu Indonesia mencapai 1,66 hari, menurun 0,26 poin dibanding Oktober 2020,” sebutnya.

Ekonom Sulut, Sefanya Oratmangun mengatakan bahwa penurunan kunjungan wisman ini tak lepas dari adanya pandemi Covid-19. Adanya kebijakan dari beberapa negara, termasuk juga Indonesia dalam hal kunjungan wisatawan dinilai menjadi salah satu penyebabnya.

“2019 dengan 2020 itu praktis pariwisata terhenti semua. Pariwisata di Sulut juga belum bergerak baik sehingga jadi seperti itu. Karena Pariwisata ini kena dampak, jadi dia tidak bergerak. Maret 2020 masih lumayan, tapi April 2020 ketika mulai larangan penerbangan itu, sampai Oktober 2020 tidak bergerak sama sekali,” tuturnya.

Sefanya menyebut, sejak Oktober 2020 itu kedatangan wisman memang mulai bergerak naik pelan-pelan, kendati belum bisa menyamai kunjungan pada tahun sebelumnya. “Jadi nanti kita lihat lagi setelah mulai agak normal. Denpasar saja (Kunjungan wisman-nya) belum bergerak betul. Di lokasi-lokasi lain di Indonesia itu, dia baru bisa bergerak di November 2020,” pungkasnya.

“Walaupun belum bergerak betul, tetapi pada Desember 2020, lalu Januari dan Februari 2021 nanti, ketika vaksinasi sudah mulai dilakukan, baru pariwisata bisa mulai berjalan bagus. Jadi saya memprediksi akan normal dan lancar lagi pada tahun depan, tahun 2022,” tambah Sefanya.

Diperkirakan tahun ini akan menjadi tahun recovery kunjungan Wisman secara perlahan. “Mungkin naik 5%, 5%, 5%, naik terus sampai 100%. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno itu harus mempercepat pemulihan, tetapi dengan melihat juga kondisi Covid-19 yang ada,” kuncinya. (Fernando Rumetor)