Pengungsi di SD Kartika XXI-4 Perkamil Manado Butuh Uluran Tangan

oleh -
Rizal Adam, keluarga dan warga lainnya menjadi korban banjir dan harus mengungsi. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO- Bencana banjir yang menerjang Kota Manado pada Jumat (22/1/2021) seakan menggoreskan kembali luka yang belum sembuh pascabanjir yang menghantam pekan lalu.

Salah satunya ialah Rizal Adam, warga yang tinggal di sekitaran Pasar Unyil Perkamil. Sejak banjir pada Jumat (22/1/2021), ia bersama warga yang tinggal di pasar tersebut langsung mengungsi ke SD Kartika XXI-4 Perkamil.

“Ya hanya bisa bawa baju di badan, sama berkas-berkas ijazah anak dan cucu. Yang lain semua hanyut, barang-barang untuk berjualan seperti kompor dan gas hanyut,” ujarnya kepada wartawan SINDOMANADO.COM pada Sabtu (23/1/2021).

Rizal mengatakan, di tempat pengungsian ini pada malam hari ada sekira 200-an warga yang mengungsi. Namun sejak pagi hari, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk sekada membersihkan perabotan yang masih bisa diselamatkan.

“Memang kemarin itu banjirnya datang tiba-tiba dan alirannya cepat sekali. Cucu saya saja hampir terbawa arus, syukur masih bisa selamat. Memang berbeda sekali dengan 2014 lalu yang airnya tinggi, tapi arusnya tak terlalu kencang, kali ini arusnya kencang,” jelas dia.

Rizal yang merupakan tokoh agama ini pun menyebut belum ada bantuan makanan yang didapat. Hanya sebatas air mineral pemberian dari lurah setempat. Untuk itu, ia sangat membutuhkan uluran tangan dari pihak-pihak terkait.

“Mungkin bantuan sembako, beras, juga pakaian-pakaian siap pakai, karena memang saya mengungsi hanya pakai baju di badan saja. Juga kalau bisa ada dapur umum untuk kita warga yang mengungsi di SD Kartika ini,” harap dia.

Selain itu, kata dia, warga juga membutuhkan bantuan selimut dan kasur untuk dipakai di tempat pengungsian. Sebab sejak semalam, ia dan warga lainnya hanya tidur beralaskan tikar tipis. “Ada warga lain saya lihat tidak bisa tidur karena dingin katanya,” paparnya.

Rizal dan warga lainnya pun berharap agar diberikan bantuan air bersih dan pompa air untuk membersihkan rumah mereka yang terendam lumpur tinggi. “Sementara saya mengungsi di SD ini, tidak bisa tidur di rumah karena masih penuh lumpur itu,” kuncinya. (Fernando Rumetor)