BI Prediksi Ekonomi Sulut Tumbuh 4-5% di 2021, Ini Pendukungnya

oleh
Kepala KPw BI Sulut, Arbonas Hutabarat. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO – Meski dilanda pandemi Covid-19, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (KPw BI Sulut) memprediksi ekonomi Sulut pada tahun 2021 ini akan tumbuh sekira 4-5%.

Hal itu disampaikan oleh Kepala KPw BI Sulut, Arbonas Hutabarat dalam diskusi akhir tahun Perbankan dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulut yang digelar di ruang Wale Tondano gedung Kantor KPw BI Sulut, Selasa (21/12/2021).

“Memperhatikan perkembangan data-data indikator perekonomian terkini, kami memperkirakan pertumbuhan Ekonomi Sulut menguat pada tahun 2021 yaitu akan berada pada kisaran 4,2% s.d 5,0% (yoy),” kata Arbonas.

Dalam kegiatan yang mengambil tema “Mengoptimalkan Sinergi dan Kontribusi Perbankan dan ISEI Dalam Pemulihan Ekonomi Sulawesi Utara” itu, Arbonas menyebut angka tersebut diperkirakan akan terus menunjukkan perbaikan pada kisaran 4,5 – 5,5 % (yoy) pada tahun 2022.

“Ekonomi diprakirakan menguat seiring dengan penurunan kasus aktif Covid-19 dan percepatan vaksinasi di Sulut. Kinerja industri dan pertanian diperkirakan tetap tumbuh positif sejalan dengan tren positif ekspor komoditas andalan Sulut,” ungkap Arbonas.

Sejalan dengan itu, kata dia, percepatan realisasi belanja modal maupun operasional baik yang bersumber dari APBD maupun APBN juga diperkirakan akan meningkat sesuai dengan pola musimannya dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan perekonomian Sulut.

“Berlanjutnya pemulihan ekonomi Sulut akan ditunjang stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga dan tumbuh positif. Sampai dengan September 2021 penyaluran kredit yang berlokasi proyek di Sulut tercatat tumbuh 9,86% (yoy),” beber Arbonas.

“Dengan kualitas penyaluran kredit yang terjaga dengan rasio NPL sebesar 2,93%. Kabar baiknya, kredit modal kerja tercatat tumbuh paling tinggi yang mengindikasikan tanda-tanda pulihnya dunia usaha,” tambahnya.

Namun demikian, ungkap Arbonas, masih terdapat beberapa risiko perekonomian daerah yang perlu diperhatikan yaitu ketidakpastian perekonomian global yang relatif masih tinggi, risiko gangguan mata rantai global serta risiko biaya logistik yang berada pada level tinggi di samping risiko penyebaran COVID-19 yang masih mengancam.

“Gangguan mata rantai global berdampak pada risiko perubahan sourcing produksi di berbagai negara. Sementara itu, kenaikan biaya logistik berisiko menurunkan daya saing komoditas strategis Sulut,” tukas Arbonas.

Usai membacakan materinya, Arbonas melakukan diskusi bersama Perbankan dan ISEI Sulut terkait arah kebijakan dan strategi yang perlu dilakukan untuk menghadapi tantangan 2022. (Fernando Rumetor)