Mieke Manoppo: Orang Manado Perlu Fighting Spirit untuk Bisa Maju

oleh
Mieke Manoppo. (FOTO: Istimewa)

CATATAN : Gladys Runtukahu

Tidak pernah terlintas dalam benak Mieke Manoppo akan mendapatkan jodoh warga negara Kanada. Mieke bertemu jodohnya, Don Turner, pria warga negara Kanada yang sedang berlibur di Pulau Bunaken sekira 24 tahun yang lalu. Mieke yang saat itu bekerja sebagai receptionist dan cashier di resort tempat Don menginap, bertugas selaku penerjemah bagi Don.

Dari perkenalan tersebut, tidak memakan waktu lama Mieke langsung dilamar oleh Don dan diajak untuk tinggal di Kanada. “Saat itu, saya sempat gamang. Mengingat harus meninggalkan orang tua dan keluarga di sini, ke negara yang belum pernah dikunjungi dan terbilang asing. Tapi saya terus berdoa dan meminta petunjuk Tuhan, hingga saya benar-benar yakin bahwa Tuhan berkenan,” kenang Mieke.

Mieke menambahkan, zaman dulu belum ada google untuk mencari tahu latar belakang calon suaminya. Namun dengan cerdas Mieke meminta untuk dihubungkan dengan ibu, serta keluarga lain, secara berkala hingga benar-benar yakin dengan latar belakang Don.

Akhirnya, pernikahan dilangsungkan di Indonesia dan hubungan Mieke dan Ibu dari Don menjadi kian dekat. Saat diboyong ke Kanada, Mieke menjadi sahabat dekat sang “mama mantu” dan dianggap seperti anak sendiri.

Mieke bersyukur, selama pernikahannya ibu dan keluarga besar Don menerima dengan sukacita. “Saya kesulitan beradaptasi, tapi dengan dukungan keluarga, tidak lama bagi saya untuk menyesuaikan diri di sini. Saya langsung merasa ini rumah saya,” ungkapnya.

Saat ini, Mieke dan Don telah dikaruniai seorang anak bernama Michael dan duduk di tingkat akhir Jurusan IT di University of British Columbia. Mieke menceritakan bahwa dia membiasakan beberapa budaya dan kebiasaan dari Manado menjadi bagian dari keluarganya seperti saat waktu makan, sebisa mungkin seluruh keluarga duduk di meja makan dan menjadi waktu bercengkrama dan menjalin komunikasi.

“Tidak gampang membesarkan anak di lingkungan pergaulan tanpa batas seperti di Kanada. Mereka berpikir liberal untuk beberapa hal, tapi untungnya hingga saat ini tidak pernah menyulitkan kami sebagai orang tua. Saya bekerja setelah Michael sudah cukup besar dan bisa ditinggal dengan pengawasan,” ucapnya.

Tantangan Mieke sebagai wanita karier di negara orang juga tidak mudah. Meskipun telah berpengalaman level Manageri di Indonesia, ketika tiba di sini harus memulai dari awal. Terlebih beberapa pekerjaan di sini menggunakan sertifikat kompetensi untuk bisa diterima, dan mewajibkan Mieke untuk mengikuti ujian tersebut.

Saya pengalaman bekerja sebagai penerjemah di perusahaan minyak, kemudian mencoba di retail store, hingga kembali mendapat kesempatan di perhotelan. Saat ini Mieke bertanggung jawab sebagai Banquet Captain di sebuah perusahaan golf di Surrey, BC.

“Saya sempat terkena layouver karena Pandemi Covid-19. Tapi tak lama kemudian saya dipanggil kembali untuk bekerja,” ujarnya. Tanpa bermaksud membandingkan, Mieke yang telah malang melintang di perusahaan Indonesia dan Kanada. Saya berpendapat bahwa orang Manado memerlukan fighting spirit untuk bisa maju. Kreativitas perlu ditingkatkan, dan satu lagi tinggalkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan.”

“Kita memiliki modal kebiasaan berpenampilan menarik. Tapi di mana-mana, saat ini menarik saja tidak cukup. Untuk bisa sukses dan maju, perlu dikombinasikan dengan niat dan excellent skills,” ujarnya. Sebelum berpisah, Mieke menambahkan bahwa hidupnya ada saat ini karena kemurahan Tuhan. Oleh karena itu, Mieke tidak pernah melupakan Kota Manado, dimana Tuhan membentuk hidupnya dan membawa hingga saat ini bisa bersaksi betapa Tuhan sungguh baik dalam hidupnya.