Untuk membuat Kopra yang baik diperlukan Kelapa yang telah berumur sekitar 300 hari dan memiliki berat sekitar 3-4 kg daging kelapa didapat dengan mencungkil dari tempurung secara manual atau memakai mesin cungkil Kopra kemudian dikeringkan dengan bantuan sinar matahari atau panas buatan. Kopra yang baik sebaiknya hanya memiliki kandungan air 6%-7% agar tidak mudah terserang organisme pengganggu. 

Kopra menjadi produk turunan kelapa dengan jumlah produksi terbesar di Sulawesi Utara. Selama tahun 2019 sd 2023, produksi kopra yang dihasilkan Sulawesi Utara terus mengalami peningkatan. Produksi kopra di Sulawesi Utara, masih didominasi dari Perkebunan rakyat. 

Pada tahun 2019, kopra yang dihasilkan perkebunan rakyat mencapai 97,96% dari total produk kopra di Sulawesi Utara. Angka ini terus mengalami peningkatan disetiap tahunnya hingga di Tahun 2023 produksi kopra di Sulawesi Utara diprediksi mencapai 271.344 ton. Dari total produksi dimaksud, perkebunan rakyat masih menjadi produsen kopra terbesar di Sulawesi Utara yakni mencapai 98,21%.

Secara nasional, luas lahan perkebunan kelapa di Sulawesi Utara menjadi terbesar kedua setelah Riau yakni hingga tahun 2023 diperkirakan mencapai 272.128 ha. Luas area perkebunan ini lebih dominasi dengan Perkebunan Rakyat yang mencapai 96,52 persen, diikuti Perkebunan Swasta dengan luas 7.929 ha atau 2,92 persen dan Perkebunan Negara dengan luas mencapai 1.544 ha atau 0,6 persen Produktivitas kelapa di Sulawesi Utara setiap tahun mengalami peningkatan. 

Peningkatan produktivitas ini ditandai dengan semakin luasnya areal perkebunan kelapa yang produktif setiap tahunnya. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata dukungan pemerintah dalam upaya menciptakan perkebunan kelapa baru melalui memperbanyak bibit dan semakin berkurangnya kondisi perkebunan kelapa yang tidak produktif/ rusak melalui upaya peremajaan tanaman demi meningkatkan produktivitas.

Salah satu tujuan pembangunan ekonomi adalah mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Indonesia adalah negara agraris, dimana sekitar dua per tiga penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.

Harapan besar agar sektor pertanian dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang mampu meningkatkan pendapatan petani. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan di sektor pertanian, terutama terkait daya beli petani diperlukan suatu ukuran. Salah satu alat ukur dimaksud adalah Nilai Tukar Petani (NTP).