MANADO — Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara mendorong penguatan pengendalian inflasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) melalui sinergi program dalam kerangka 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, dalam High Level Meeting TP2DD dan TPID Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Rabu (20/5/2026).
“Pergerakan harga komoditas di Bolaang Mongondow Selatan cenderung sejalan dengan Kota Kotamobagu sebagai pusat distribusi utama,” ucapnya.
“Beberapa komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan tomat menunjukkan volatilitas harga yang relatif tinggi, terutama pada periode HBKN,” kata Joko.
Ia mengingatkan bahwa pengendalian harga melalui ketersediaan stok dan intervensi pasar perlu dilakukan terutama menjelang Idul Adha.
Data historis mencatat harga tomat sebagai komoditas paling volatil, dengan rentang harga dari Rp 6.500 hingga Rp 21.000 per kilogram.
Sementara itu, cabai rawit sempat menembus Rp 85.000 pada pertengahan 2025 akibat kelangkaan pasokan.
Joko juga menyoroti masih terdapat hanya satu petani unggulan yang berasal dari Bolsel dalam program PATUA (Petani Unggulan Sulawesi Utara), yakni Poktan Metafora dengan fokus budidaya cabai rawit.
“Kami berharap anggota TPID Bolsel dapat menggaungkan program PATUA sehingga meningkatkan partisipasi kelompok petani komoditas strategis yang pada akhirnya dapat memperkuat basis sentra produksi,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, BI Sulut telah mendirikan Koperasi Wale Tani Mapalus pada 21 Maret 2025 sebagai wadah penguatan klaster cabai rawit.
Hingga 2025, total produksi cabai rawit koperasi ini meningkat 30 persen, dari 35 ton per hektare menjadi 50 ton per hektare. (nando)

