LONDON – Pemerintah Inggris menyediakan obat antivirus remdesivir bagi pasien Covid-19 karena terbukti mampu mempercepat kesembuhan mereka. Pemerintahan di negara-negara Eropa mulai melarang penggunaan obat anti-malaria hydroxychloroquine untuk merawat pasien Covid-19.

Departemen Kesehatan Inggris menyatakan data uji klinis menunjukkan bahwa obat tersebut mampu memperpendek waktu pemulihan pasien sekitar empat hari.  Pemerintah Inggris bekerja sama dengan perusahaan Gilead Sciences untuk memproduksi obat tersebut.

“Ini mungkin langkah maju terbesar dalam perawatan pasien virus korona sejak krisis dimulai,” kata Menteri Kesehatan Matt Hancock, dilansir Reuters. Meskipun, langkah tersebut masih dini, namun Hancock mengungkapkan, pemerintah mendukung penelitian berbasis sains yang menunjukkan hal yang menjanjikan. Remdesivir merupakan obat anti-virus yang digunakan melawan Ebola.

Untuk saat ini karena persediaan yang terbatas, obat itu akan diprioritaskan bagi mereka yang paling membutuhkan. AS dan Jepang telah membuat pengaturan mendesak yang serupa untuk mendapatkan akses dini ke obat itu, sebelum obat itu punya kesepakatan pemasaran.

Menteri bidang inovasi, Lord Bethell, mengatakan ini menunjukkan kemajuan yang luar biasa. “Ketika kita berjalan pada periode yang belum pernah terjadi sebelumnya, kita harus berada di garis terdepan terkait dengan kemajuan medis terbaru, sambil selalu memastikan keselamatan pasien menjadi prioritas utama,” katanya, belum lama ini.

Kemudian, Stephen Griffin dari Fakultas Kedokteran Universitas Leeds, mengatakan obat itu mungkin adalah antivirus yang paling menjanjikan untuk virus corona sejauh ini. Dia mengatakan pasien dengan penyakit paling parah kemungkinan akan menerimanya terlebih dahulu.

“Meskipun ini jelas pendekatan yang paling etis, itu juga berarti bahwa kita tidak boleh mengharapkan obat itu akan menjadi peluru ajaib,” papar Griffin. “Kami berharap untuk meningkatkan tingkat pemulihan dan mengurangi angka kematian pasien, sesuatu yang kami harap akan bermanfaat bagi sebanyak mungkin pasien,” imbuhnya.

Obat lain yang sedang diselidiki untuk virus korona termasuk obat malaria dan HIV yakni hidroksiklorokuin. Namun, penelitian itu telah dihentikan karena kekhawatiran akan aspek keselamatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan penangguhan sementara itu merupakan tindakan pencegahan, setelah sebuah studi medis baru-baru ini menemukan obat tersebut dapat meningkatkan risiko kematian dan komplikasi irama jantung.

Langkah pelarangan itu dilaksanakan Prancis, Italia dan Belgia mengikuti saran WHO. Di Inggris, penelitian yang dilaksanakan Universitas Oxford dan Bill and Melinda Gates Foundation menunda uji coba obat malaria tersebut. “Semua uji coba hydroxychloroquine terhadap pasien Covid-19 sedang dikaji,” demikian keterangan otoritas pengawasan obat di Inggris.

Selama ini, hydroxychloroquine merupakan obat yang menjadi andalan bagi Trump. Dia menyebut obat tersebut sebagai “pengubah permainan”. Hingga kajian terbaru yang diterbitkan jurnal The Lancet melaporkan pasien yang mengonsumsi hydroxychloroquine cenderung lebih cepat meninggal dan mengalami denyut jantung tidak teratur.

Lembaga kesehatan di Prancis dan Italia juga menyebutkan hydroxychloroquine tidak lagi digunakan oleh pasien Covid-19. Pemerintah Italia menyimpulkan hydroxychloroquine tidak memberikan keuntungan melawan Covid-19. Pemerintah Belgia juga mengevaluasi uji coba obat tersebut.

Namun, perusahaan farmasi asal Swiss, Novartis terus melaksanakan uji klinis terhadap 440 pasien dengan obat tersebut. Sedangkan, Sanofi enggan berkomentar mengenai kelanjutan uji coba obat hydroxychloroquine. (Koran Sindo)