MANADO – Salah satu industri yang mengalami kerugian besar akibat pandemi Covid-19 adalah perhotelan. Okupansi atau tingkat hunian hotel yang merosot bukan hanya terjadi di Jakarta dan kota besar lainnya, tapi juga di Sulawesi Utara (Sulut). Dengan kondisi ini, diharapkan peran sigap dan bijak pemerintah untuk menopang dan menggairahkan industri perhotelan.

Sebagian hotel di Kota Manado masih menutup hotelnya akibat okupansi yang anjlok bahkan kegiatan-kegiatan yang biasanya digelar di ballroom hotel hampir tidak ada lagi.

Industri perhotelan yang juga menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi bagi Sulut butuh diperhatikan lebih. Memasuki era new normal ini, kegiatan-kegiatan dari pemerintah terlihat mulai hidup lagi. Hal inilah yang menjadi harapan industri perhotelan di Sulut agar adanya persamaan perilaku bagi semua hotel di Sulut untuk bisa mendapat bagian dalam kegiatan-kegiatan pemerintah.

General Manager Sintesa Peninsula Manado I Putu Anom mengatakan, harapan dari industri perhotelan hanya sederhana, jangan sampai tumpang tindih antara surat edaran gubernur dan wali kota dalam mengawal kebijakan Presiden Joko Widodo dalam mengawal masa new normal untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan bagi masyarakat dan pelaku usaha. “Kalau secara pribadi, untuk meningkatkan gairah bisnis yaitu okupansi hotel adalah kegiatan pemerintah dulu dimulai dihotel hotel. Tentu dengan pengawalan ketat menggunakan SOP yang mengacu kepada protokol kesehatan sesuai dengan imbauan pemerintah,” ucapnya kepada KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM, belum lama ini.

Lanjut Putu, kenapa pemerintah? Karena dirinya meyakini dari dinas tertentu atau kementerian tertentu ada dana untuk hal itu. “Misalnya Kementerian PU, Kementerian Pariwisata mesti mulai dulu, karena kalau kita hanya mengandalkan tamu yang datang secara individu atau FIT itu sangat terbatas. Jadi pemerintah yang menggerakkan lebih dulu, seperti saya membaca berita sewaktu Bapak Presiden rapat dengan para gubernur tempo hari, salah satunya jika tidak salah pesan beliau, mulailah dengan belanja barang dan jasa. Ini akan membantu pergerakan di sektor riil. Yaitu pasar akan bergerak, retail bergerak, UMKM, petani, nelayan ikut bergerak,” ujarnya.

Putu pun mengakui okupansi di Sintesa Peninsula Manado pun saat ini hanya 7% saja. Hal tersebut juga dikatakan GM Aston Hotel Manado Johan Lolong. Menurut dia sebaiknya bisnis pariwisata dan penerbangan dibuka saja kembali dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat, agar supaya ekonomi bisa bergerak. “Pariwasata harus dibuka untuk menunjang kehidupan di industri perhotelan sendiri, promosi oleh pihak pemerintah juga penting dan bisa fokus ke pasar lokal dan domestik saja dulu,”ucapnya.

Tambah Johan, saat ini okupansi di Aston Hotel Manado hanya 25-30%. “Untuk kembali ke 70-80% rasanya masih berat dan mungkin sampai liburan musim panas 2021. Yang terpenting bisa capai 50% occ saja, itu tentunya sudah bisa membantu bagi hotel, setidaknya utk meng-cover biaya operasional,”ujarnya.

Di Novotel Manado juga mengalami hal serupa. Asisten Marketing Debora Sandra mengatakan, saat ini Novotel Manado sendiri memang masih dalam tahap pemulihan dan kami masih bergantung dari group. “Kami masih menggantungkan kegiatan kami dari group, tentunya kami juga berharap dari pemerintah dapat segera mempercepat pemulihan ekonomi, agat dapat berdampak positif ke industri Pariwisata lebih khususnya untuk hotel,” ujarnya.

Di sisi lain, Ekonom Unima Robert Winerungan menilai, industri perhotelan di masa pandemi masih perlu bersabar. “Industri perhotelan masih sulit untuk mengembangkan pada aktivitas rapat, seminar dan sebagainya seperti biasanya. Namun untuk tingkat hunian kamar bisa dioptimalkan dengan menjajakan protap kesehatan. Karena bisa beroperasi saja harus bisa disyukuri untuk bisa bertahan dalam operasi pelayanan,” ucapnya. (Clay Lalamentik)