MANADO — Rafel Kastilong, warga Malendeng yang bekerja sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) di Kecamatan Tikala, Kota Manado, berhasil membuktikan jika keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk kuliah.

Hebatnya lagi, Rafel berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar sarjana di STIE Eben Haezar Manado di masa sulit pandemi covid-19. Kepada sindomanado.com, Rafel mengaku, ada banyak tantangan, stigma negatif hingga cibiran yang diterima dalam misi mewujudkan mimpi meraih gelar sarjana. “Saya pribadi tidak menyangka bisa berhasil menyelesaikan studi di STIE Eben Haezar. Pertolongan Tuhan sungguh luar biasa sehingga saya bisa mewujudkan mimpi menjadi seorang sarjana,” tutur Koordinator Kebersihan Kelurahan Dendengan Dalam dan Ranomut itu.

Ia berkisah, mimpi untuk menjadi sarjana telah terpatri di hatinya sejak dirinya bertobat menerima Tuhan Yesus dan terjun dalam dunia pelayanan. Sayangnya, keterbatasan ekonomi keluarga, membuatnya memupus asa masuk perguruan tinggi usai lulus SMA pada 2008 silam.

Tak patah semangat, Rafel berupaya mencari biaya kuliah dengan menekuni sejumlah pekerjaan. Namun, semua yang dilakukan belum berhasil mewujudkan mimpinya. Bahkan, ia harus bekerja ekstra keras lagi untuk meraih mimpi ketika memantapkan langkah untuk hidup berkeluarga. Di mana, di sela-sela waktu lowong bertugas sebagai THL, Rafel menjadi tukang ojek pangkalan di sekitar tempat tinggalnya.

Kondisi ekonomi keluarga pas-pasan serta harus menghidupi istri dan dua orang anak, saya banyak menerima sindiran pedas ketika tetap menjaga mimpi masuk kuliah.

So kaweng kwa, suda jo mo kuliah. Urus anak jo karna so sampe sini torang pe hidop (Kamu sudah menikah dan tak perlu lagi kuliah. Fokuslah mengurusi anak-anak karena beginilah hidup kita),” ucap Rafel, menirukan sindiran yang ia terima di lingkungannya.

Tidak ingin dipandang sebelah mata, pada 2017, berkat bantuan seorang sahabat dalam pelayanan jaringan doa, Rafel mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di STIE Eben Haezar. “Rencana Tuhan sungguh di luar pikiran manusia. Pada 2017 saya masuk kuliah dan di tahun yang sama, saya diterima bekerja sebagai THL di Kecamatan Paal 2,” beber mantan Ketua Majelis Perwakilan Mahasiswa Periode 2020-2021 STIE Eben Haezar, Ketua Futsal serta Ketua Unit Pelayanan Kerohanian itu.

Penatua Sekolah Minggu GMIM Agape Malendeng menyebut, keberhasilannya meraih gelar sarjana tidak lepas dari kehadiran orang-orang baik hati yang dikirim Tuhan. Di mana, sejak mendaftar masuk kuliah hingga selesai ujian, ada saja orang yang dikirim Tuhan untuk membiayai. “Doa istri, anak-anak serta orang tua membawa saya bisa mewujudkan mimpi. Dengan mengantongi gelar sarjana, saya berharap bisa merubah ekonomi keluarga ke depan,” harap suami tercinta Evelin Tulas dan ayah dari Evangelica Favor dan Eben Haezer Da’far itu.

Ia pun berpesan kepada anak-anak muda untuk tidak takut bermimpi. “Dengan disiplin dan konsisten, kita pasti akan meraih apa yang kita impikan karena tidak ada yang mustahil di hadapan Tuhan. Kalo Tuhan Mo Pake (Kalau Kita Dipakai Tuhan), Ia akan mengangkat kita dan membuat kita bersinar di manapun kita berada,” pungkas Atey, sapaan akrab Rafel. (kimgerry)