MANADO – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut) mencatat nilai neraca perdagangan Sulut yang diukur melalui penghitungan net ekspor pada Januari 2022 mengalami surplus, yakni senilai US$ 52,63 juta.

Kendati demikian, Kepala BPS Sulut, Asim Saputra menuturkan bahwa kondisi ini mengalami penurunan dibandingkan kondisi bulan Desember 2021 yang tercatat senilai US$ 87,59 juta.

“Disisi lain, nilai impor Sulut pada Januari 2022 mengalami penurunan sekitar 66,86% bila dibandingkan dengan bulan Desember 2021 (m-to-m). Bila dibandingkan dengan Januari 2021 (y-on-y), impor Sulut masih mengalami kenaikan sebesar 35,42%,” kata asim dalam rilis Berita Resmi Statistik, Selasa (15/2/2022).

Dilihat menurut golongan barang HS2 digit, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) menjadi kontributor terbesar terhadap nilai impor Sulut. Kontribusi golongan barang ini terhadap total impor adalah sebesar 50,60% yang diimpor dari negara Tiongkok, India, Swedia, Australia, dan Singapura.

“Adapun volume impor Sulut pada Januari 2022 mengalami penurunan sebesar 90,85% dibanding Desember 2021, dimana komoditi yang memiliki volume terbesar adalah komoditi bahan kimia organik (HS 29) dengan berat mencapai 3.840,43 ton atau 76,25% dari total berat impor,” jelasnya.

Komoditi yang memiliki volume terbesar kedua adalah komoditi mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) dengan berat mencapai 675,96 ton atau 13,42% dari total berat impor.

Sementara itu, kata Asim, Tiongkok menjadi negara pemasok terbesar komoditi impor, yaitu sebesar 53,13%. Adapun komoditas terbesar yang dibeli dari negara tersebut adalah Mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) dan barang dari besi dan baja (HS 73).

“Dari sisi volume impor, negara pemasok yang memiliki volume terbesar adalah Malaysia dengan berat mencapai 3.888,15 ton atau 77,20% dari total berat impor dengan komoditi yang diimpor adalah bahan kimia organik (HS 29) dan kain kempa, benang khusus, dan benang pintal (HS 56),” papar Asim.

Negara pemasok terbesar kedua berdasarkan volumenya adalah Tiongkok dengan berat 791,39 ton atau sebesar 15,71% dari total berat impor dengan komoditi terbesar yang diimpor adalah mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84).(Fernando Rumetor)