MANADO – Neraca perdagangan Sulawesi Utara pada April 2026 kembali mencatatkan surplus.
BPS Sulawesi Utara melaporkan surplus neraca perdagangan barang bulan April 2026 sebesar US$ 88,66 juta, tumbuh 24,52 persen secara year-on-year (y-on-y).
Kepala BPS Sulawesi Utara, Watekhi, menyampaikan hal itu dalam rilis resmi pada Selasa (2/6/2026).
“Secara kumulatif Januari hingga April 2026, surplus neraca perdagangan Sulawesi Utara mencapai US$ 356,23 juta, meningkat 11,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 318,95 juta,” kata Watekhi.
Surplus tersebut ditopang oleh nilai impor yang masih jauh di bawah ekspor. Nilai impor Sulawesi Utara pada April 2026 tercatat sebesar US$ 19,73 juta, naik 17,17 persen secara y-on-y dari US$ 16,84 juta pada April 2025.
Secara kumulatif, total impor Januari–April 2026 mencapai US$ 55,04 juta, naik 10,18 persen dibandingkan US$ 49,96 juta pada periode yang sama tahun 2025.
Watekhi menjelaskan, komoditas impor dominan adalah bahan bakar mineral (HS-27) dengan nilai kumulatif US$ 36,44 juta atau pangsa 66,20 persen, meski mengalami penurunan 5,33 persen dibanding tahun lalu.
Impor tembakau dan rokok (HS-24) melonjak drastis 408,88 persen menjadi US$ 3,93 juta dengan pangsa 7,13 persen, sementara pulp dari kayu (HS-47) naik 70,53 persen menjadi US$ 3,48 juta dengan pangsa 6,32 persen.
Malaysia tercatat sebagai negara asal impor utama Sulawesi Utara dengan nilai US$ 30,50 juta atau pangsa 55,40 persen dari total impor.
Disusul Singapura dengan nilai US$ 7,93 juta (14,41 persen) dan Tiongkok US$ 5,73 juta (10,41 persen).
“Kinerja neraca perdagangan Sulawesi Utara secara keseluruhan menunjukkan tren yang menggembirakan dan konsisten surplus sepanjang Januari hingga April 2026,” tutup Watekhi. (nando)


Tinggalkan Balasan