MANADO – Kekayaan budaya dan kearifan lokal Sulawesi Utara dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif.
Hal ini menjadi salah satu pesan utama dalam pelaksanaan Urban Digifest x Sulut Coffee Fest 2026 yang digelar di Atrium Mantos 3.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan tema “Rupa Rasa Kawanua: Meracik Tradisi, Menyeduh Inovasi” memiliki pesan penting untuk mendorong masyarakat menjaga sekaligus mengembangkan identitas daerah.
Menurut Joko, konsep “rupa” menggambarkan kekayaan karya dan kreativitas, sementara “rasa” merepresentasikan kekayaan kuliner dan komoditas unggulan Kawanua.
“Keduanya ini menjadi cermin identitas Sulawesi Utara yang perlu terus kita jaga, kita kembangkan dan kita promosikan,” kata Joko saat memberikan sambutan pada soft opening Urban Digifest x Sulut Coffee Fest 2026 di Manado, Rabu (12/8/2026).
Ia menuturkan, pengembangan ekonomi kreatif tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budaya.
Sebaliknya, tradisi dan kearifan lokal dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
“Meracik tradisi di sini berarti bahwa kemajuan ekonomi kreatif tidak harus membuat kita meninggalkan akar budaya kita. Sebaliknya, tradisi dan kearifan lokal harus mampu kita racik menjadi sumber kreativitas dan nilai ekonomi yang baru,” ujarnya.
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan dalam Urban Digifest, mulai dari pengembangan wastra Sulawesi Utara, modest fashion, kegiatan membatik bersama Dekranasda.
Juga pengembangan kuliner, hingga penguatan komunitas lokal melalui booth showcasing dan video storytelling mengenai desa wisata.
Joko pun berharap semakin banyak generasi muda melihat budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi dan peluang ekonomi.
“Kami ingin semakin banyak generasi muda melihat bahwa budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi, peluang usaha, identitas produk yang memiliki daya saing, serta mendatangkan kesejahteraan ekonomi,” katanya.
Menurutnya, pengembangan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, BI, Dekranasda, perbankan, komunitas, akademisi hingga dunia usaha.
Melalui sinergi tersebut, BI berharap kekayaan tradisi Kawanua dapat terus berkembang dan memperoleh pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun global.
“Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Dekranasda, perbankan, komunitas, akademisi, dan dunia usaha, kami berharap kekayaan tradisi Kawanua dapat terus tumbuh dan memperoleh tempat yang semakin luas, baik di pasar nasional maupun pasar global,” tutur Joko. (nando/*)

