MANADO – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara menargetkan pelaksanaan Urban Digifest x Sulut Coffee Fest 2026 mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah.
Kegiatan yang mengusung tema “Rupa Rasa Kawanua: Meracik Tradisi, Menyeduh Inovasi” tersebut resmi memasuki tahap soft opening di Urban Digifest, Manado, Rabu (12/8/2026).
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Utara, Joko Supratikto, mengatakan Urban Digifest tahun ini melibatkan lebih dari 200 UMKM yang menampilkan berbagai produk kreatif dan unggulan Sulawesi Utara.
“Urban Digifest 2026 menghadirkan lebih dari 200 UMKM yang menampilkan produk kreatif unggulan Sulawesi Utara melalui berbagai macam area,” ujar Joko.
Ia menjelaskan, produk UMKM tersebut terbagi dalam sejumlah area, di antaranya Wale Rupa yang menghadirkan wastra, fashion dan kriya, Wale Rasa yang menampilkan makanan, minuman serta produk ready to eat, hingga tenant kopi.
Selain memperluas ruang promosi, BI juga menargetkan peningkatan jumlah pengunjung dan transaksi selama kegiatan berlangsung.
“Tahun ini kami targetkan sebanyak 60.000 (pengunjung). Dan juga kami harapkan ini bisa mencatatkan transaksi lebih dari Rp6 miliar. Tahun lalu sekitar Rp5,5 miliar,” katanya.
Menurut Joko, target tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan transaksi selama kegiatan, tetapi juga mendorong akses pembiayaan bagi UMKM.
BI Sulut pun menargetkan realisasi pembiayaan dari lembaga keuangan, baik perbankan maupun nonbank melalui PNM, mencapai lebih dari Rp3 miliar.
“Namun demikian, keberhasilan kegiatan ini bukan hanya tentang angka. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Urban Digifest ini mampu menghasilkan multiplier effect yang berkelanjutan bagi ekonomi, bagi UMKM dan bagi masyarakat di Sulawesi Utara,” ujarnya.
Joko menegaskan, BI berupaya agar program pengembangan UMKM tidak berhenti pada kegiatan yang bersifat seremonial.
Menurutnya, setiap program harus menghasilkan outcome yang nyata, terukur, dan memberikan dampak terhadap pelaku usaha maupun perekonomian daerah.
“Kami ingin program pengembangan UMKM tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu menghasilkan outcome yang nyata, terukur, dan berdampak bagi pelaku usaha maupun perekonomian daerah,” pungkasnya. (nando/*)

