Masyarakat Masih Diancam Invenstasi Bodong

oleh -22 Dilihat
Tampak pelatihan dan gathering dengan wartawan yang dilakukan oleh OJK di Makassar. (Foto:Ist)
Tampak pelatihan dan gathering dengan wartawan yang dilakukan oleh OJK di Makassar. (Foto:Ist)

MAKASSAR— Masyarakat masih diancam dengan adanya investasi bodong oleh oknum-oknum tak betanggung jawab. Hal tersebut terungkap tatkala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional VI menggelar pelatihan dan gathering dengan wartawan di Four Point Hotel, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kemarin. “Saat ini banyak oknum memberikan investasi di luar kewajaran,” kata Kepala Regional VI OJK Sulawesi Maluku Papua (Sulampua), Zulmi. Misalnya, kata dia, menawarkan pelunasan utang, voucher uang tunai, investasi emas dan lain sebagainya yang ujung-ujungnya di luar batas kewajaran. “Ini Investasi tak bisa dipertanggungjawabkan, banyak menyebutnya investasi bodong,” ujarnya.

Dia berharap, peran pers dapat sangat membantu lewat keberadaan media untuk mengedukasi masyarakat yang belum paham atau mudah tergoda dengan tawaran oknum atau pihak tertentu soal investasi. “Terutama masyarakat menengah dan ke bawah. Sayangkan, warga menabung tapi uangnya tidak kembali. Ini sangat penting agar dapat dipahami bersama,” tukasnya. Menurut dia, meski OJK baru berumur enam tahun, tapi sudah banyak yang dilakukan dalam kurun waktu tersebut. Zulmi mengatakan, ada sebuah ironi survei OJK  tahun 2013 lalu, tingkat pemahaman literasi masyarakat tentang jasa keuangan masih jauh di bawah 19%. Kemudian 2016 survei tingkat pemahaman literasi meningkat menjadi 28%. Kesempatan itu, Kepala Bagian (Kabag) Kemitraan dan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah Kantor OJK Regional VI Sulampua, Andi Yusuf, memaparkan soal pertumbuhan ekonomi di wilayah Sulampua. “Pertumbuhan ekonomi tertinggi dari Maluku Utara (Malut) di 2017 sebesar 7,67 persen. Kedua, Sumatera Selatan (Sulsel) 7,67 persen. Sedangkan Sulut, masuk posisi ke delapan sebesar persen 6,32,” tururnya.

Wartawan juga diberikan penjelasan terkait perkembangan kinerja Bank di Sulampua, serta dorongan dan hambatan kredit di sektor lapangan usaha. “Memang awal 2018 ini, perkembangan kredit melambat karena sektor lapangan usaha menjadi perlambatan,” ungkapnya. Dalam kesempatan itu ,diberikan kesempatan untuk tanya jawab, terkait pemaparan materi yang disampaikan untuk melihat kondisi perkembangan ekonomi, serta peran dan program OJK di daerah masing-masing. (rivco tololiu/cr)