Diskusi Bersama AJI Manado, Pers Jaga Independensi di Pemilu 2019

oleh -
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Manado gelar diskusi bertajuk Media dan Jurnalis Menghadapi Pemilihan umum (Pemilu) 2019 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-24, Selasa (7/8/2018), di ruang prodi PSP Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. (ist)
AJI Kota Manado gelar diskusi bertajuk Media dan Jurnalis Menghadapi Pemilu 2019 dalam rangka HUT Ke-24, Selasa (7/8/2018), di ruang prodi PSP Pascasarjana Unsrat Manado. (ist)

MANADO- Jurnalis merupakan profesi yang begitu mulia di dunia ini. 2019 adalah tahun politik di Indonesia termasuk Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Tugas seorang jurnalis sangat sentral dan penuh tanggungjawab dalam mencari, merangkai, dan memberitakan suatu berita, begitu juga dengan media massa. Pun, pers dituntut untuk jaga independensi dari mulai tahapan dan puncak Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Manado gelar diskusi bertajuk Media dan Jurnalis Menghadapi Pemilu 2019 dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-24, Selasa (7/8/2018), di ruang prodi PSP Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

“Pers harus memahami tiga hal penting dalam perannya di Pemilihan umum (Pemilu). Pertama, pers  harus tahu visi besar dari Pemilu, menguasai perundang-undangan serta menjaga independensi,” tegas Koordinator Pendidikan Tata Kelola Pemilu Pascasarjana Unsrat Ferry Daud, saat diskusi, Selasa (7/8/2018).

Menurut dia, jurnalis bersama media massa merupakan bagian penting serta bertanggungjawab terhadap hasil dari pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 nanti. Juga bagi legislator yang terpilih.

“Salah jika Pemilu hanya menjadi tanggungjawab penyelenggara, dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Ini kolektif, pers dan media juga bertanggungjawab,” terang dia.

Dia menjelaskan, kedaulatan ada di tangan rakyat, tapi harus ada aktor-aktor politik yang dipilih untuk menjalankan kedaulatan rakyat tersebut. Di Pemilu inilah rakyat memilih aktor tersebut.

“Dan pers harus mengawal agar rakyat jangan sampai salah memilih aktor yang akan mereka percayakan kedaulatannya,” harap dia.

Lanjut dia, soal kinerja Partai Politik (Parpol) yang gagal melakukan kaderisasi dan leadership yang baik. Hingga orang-orang yang terpilih bukan yang menghidupi parpol dan demokrasi tapi menjadi tempat mencari hidup.

“Contohnya ada beberapa parpol yang membuat iklan ajakan untuk nyaleg seperti lowongan pekerjaan. Ini tanggung jawab media, apakah aktor politik yang terpilih adalah orang yang tepat, paham membuat dan melaksanakan undang-undang serta tahu berpendapat,” jelas dia.

Sementara itu, Komisioner KPU Sulut Salman Saelangi dalam pemaparannya pada diskusi yang digelar dalam rangka HUT AJI ke 24 tersebut, mengangkat tema Peran Media sebagai Jembatan Partisipasi Masyarakat Menuju Pemilu Berkualitas.

“Media massa dan jurnalis adalah bagian dari stakeholder yang berperan mensukseskan Pemilu. Jangan sampai masyarakat berpendapat bahwa siapapun yang akan dipilih tidak akan berpengaruh bagi dirinya. Atau masyarakat lainnya hanya mengacu pada ‘serangan fajar’ untuk memilih,” terang dia.

Ahli Pers Dewan Pers Yoseph Ikanubun mengatakan, kondisi media di Sulut terpengaruh pada kepentingan politik dan penguasa.

“Di Dewan Pers sendiri kode etik jurnalistik hanya 11 pasal, sedangkan di AJI kode etik berjumlah 21, dan kode perilaku ada 54 pasal yang menjadi panduan bagi anggota menjalankan tugas jurnalistiknya,” beber mantan Ketua AJI Manado.

“Pers khususnya anggota AJI tetap berada di rel yang benar dalam berjurnalistik,” tambah dia.

Sedangkan Komisioner Komisi Informasi Propinsi (KIP) Sulut, Raymond Pasla mengatakan, yang harus dikedepankan oleh jurnalis dalam menjalankan tugasnya di momen Pemilu adalah intergritas.

“Integritas itu dari dalam diri. Aturan, kode etik dan kode perilaku itu tidak akan cukup tanpa intergritas dari masing-masing jurnalis. Karena dulu ada begitu banyak wartawan yang idealis tapi sekarang sudah jadi industrialis,” tukas mantan Ketua AJI Manado itu.

Ia juga menambahkan AJI Manado bertanggungjawab menyebarkan idealisme yang ada di AJI untuk para jurnalis di daerah ini.

“AJI Manado harus mampu menelorkan jurnalis-jurnalis yang memiliki idealisme dan intergritas,” kunci Pasla.

Pada penutupan diskusi, Ketua AJI Manado Yinthze Lynvia Gunde didampingi Sekretaris Fernando Lumowa mengatakan, terima kasih kepada seluruh nara sumber yang berbagi masukan-masukan, ilmu, saran dan kritik bagi para anggota AJI dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis.

“Ini tentu sangat bermanfaat bagi anggota-anggota AJI dan para jurnalis yang ikut dalam diskusi ini,” pungkas dia.

Turut hadir dalam acara diskusi tersebut Ketua Bawaslu Sulut Herwyn Malonda, para jurnalis dari berbagai media massa dan pers mahasiswa Unsrat serta Politeknik. (Valentino Warouw/get)