MINAHASA – Bagi pelaku UMKM di kawasan wisata Bukit Kasih Kanonang, membuat produk sendiri dan menghadirkan kemasan yang lebih menarik bukan sekadar soal mengikuti perkembangan zaman. Hal itu menjadi bagian dari upaya agar usaha yang mereka jalankan bisa terus bertahan dan berkembang.
Semangat tersebut yang coba didorong Universitas Negeri Manado (UNIMA) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di kawasan wisata Bukit Kasih, Kabupaten Minahasa, pada 17–18 Agustus 2026.
Lewat program bertajuk “Modernisasi UMKM melalui Penerapan Teknologi dan Inovasi Kreatif untuk Akselerasi Ekonomi Kawasan Wisata Bukit Kasih Kabupaten Minahasa”, tim PKM memberikan pendampingan kepada Kelompok Kasih, kelompok UMKM yang selama ini menjalankan usaha di kawasan wisata tersebut.
Selama ini, para pelaku usaha masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Salah satunya dalam membuat souvenir sendiri dan mengembangkan kemasan produk kuliner agar lebih menarik bagi wisatawan.
Tim PKM yang diketuai Polii Einjelheart Hansiden, MAP, bersama anggota Vica Wilani Putri Kaparang, S.E., M.M. dan Alfiansyah Hasibuan, S.Kom., M.Kom., serta mahasiswa Fabio Yohanes Hendrik Polii dan Kristania Princess Tumbuan, kemudian memperkenalkan sejumlah teknologi sederhana yang bisa langsung dimanfaatkan untuk mendukung usaha mereka.

Salah satunya adalah teknologi sablon kaos. Melalui pelatihan dan pendampingan ini, anggota Kelompok Kasih memiliki kesempatan untuk membuat kaos dengan desain khas Bukit Kasih.
Produk tersebut bisa menjadi souvenir yang benar-benar berasal dari masyarakat setempat, bukan sekadar barang yang didatangkan dari tempat lain.
Teknologi lain yang diperkenalkan adalah vacuum sealer untuk membantu mengemas produk kuliner. Jagung, telur, kacang dan berbagai produk lainnya dapat dikemas dengan lebih rapi dan higienis sehingga lebih menarik untuk dibawa pulang oleh wisatawan sebagai oleh-oleh.
Bagi Ketua Kelompok Kasih, Imelda Alfrians Pinatik, kehadiran teknologi tersebut memberikan peluang baru bagi kelompoknya.
Sablon membuka kemungkinan untuk mengembangkan usaha kaos khas Bukit Kasih, sementara vacuum sealer membantu mereka memperbaiki cara mengemas produk yang selama ini dijual.
Lebih dari sekadar mendapatkan peralatan, program ini memberi kesempatan kepada para pelaku UMKM untuk melihat bahwa produk yang mereka hasilkan sendiri memiliki nilai dan peluang untuk dikembangkan. Harapannya, semakin banyak produk khas Bukit Kasih yang lahir dari tangan masyarakat setempat.

Tim PKM juga menyampaikan apresiasi kepada Rektor UNIMA Dr. Joseph Philip Kambey, SE, Ak, MBA dan Ketua LPPM Dr. Armstrong F. Sompotan, S.Si., M.Si. atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Program ini merupakan Program Kemitraan Masyarakat, bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan tahun pendanaan 2025 dan pelaksanaan pada 2026.
Melalui pendampingan ini, UNIMA tidak hanya membawa teknologi ke tengah masyarakat. Lebih jauh, program tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM Bukit Kasih menemukan cara baru untuk mengembangkan usaha, menciptakan produk sendiri, dan menjadikan aktivitas ekonomi di kawasan wisata itu semakin hidup. (nando/*)

