MANADO-Topik sepak bola menjadi pembahasan menarik di Forum Mingguan KORAN SINDO MANADO (KSM). Sejumlah masukan dan kritik seputaran kualitas dan perkembangan sepak bola di daerah ini, disampaikan para narasumber yang dimoderatori Ketua Dewan Redaksi KSM Wolter Rumapar, Kamis (20/9/2018).

Mewakili Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Sulut, Jufry Rumondor menjelaskan, pemerintah dalam upaya pengembangan olahraga khususnya sepak bola saat ini telah siap menganggarkan dana. Kebijakan ini untuk dilakukan dalam menyiapkan generasi muda potensial lewat try out.

Namun persoalannya, kata Rumondor, hingga saat ini Asprov PSSI Sulut belum memasukan proposal. Memang diakuinya, bahwa untuk mengembalikan kembali sepak bola di Sulut, tidak semudah membalikan telapak tangan, apalagi untuk mencapai sebuah prestasi.

Menurutnya, ini membutuhkan proses yang tidak singkat. Perlu ditunjang oleh semua stekholder. Tanpa dukungan penuh dari berbagai pihak yang berkompeten dalam dunia sepak bola, ini pastinya tidak akan terjadi.

“Diakui di jaman Gubernur Mangindaan semua kebijakan bisa dilaksanakan, namun sekarang sudah tidak bisa sembarangan karena bisa bermasalah,” ucapnya.

Kata dia, Asprov PSSI Sulut jika meminta proposal, tentunya Pemrov Sulut mendukung sepenuhnya.

“Olahraga pada dasarnya semua tanggung jawab di KONI. Sementara Dispora hanya memfasilitasi soal penganggaran,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Pemberdayaan Olahraga Pontowuisang Kakauwe, mewakili Kadis Dispora Kota Manado mengatakan, harus dipahami bahwa sebagaimana dalam Nawacita yang saat ini digemborkan oleh Presiden Jokowi, bahwa pemerintah hadir bersama dengan masyarakat.

Tentunya pengembangan olahraga khususnya sepak bola wajib pemerintah hadir didalamnnya.

“Artinya jika pemerintah hadir didalamnya pasti ada anggaran. Bukankah PON tujuannya untuk pengembangan olahraga bagi generasi muda. jadi tidak mungkin dana tidak di sediakan oleh pemerintah. Kecuali dana untuk sepak bola profesional. Ini tentunya tidak bisa mengunakan dana pemerintah,” sebutnya.

Dia menyayangkan sudah tidak ada lagi Firman Utina baru dalam kanca sepak bola tinggkat Nasioanal.

“Ini tentunya yang harus dipersiapkan pemerintah, generasi muda andalan dalam cabang sepak bola,” terangnya.

Alan Mandey, mantan pemain sepak bola yang tergabung dalam klub kebanggaan Nyiur melamabai yakni Persma Manado menceritakan, kenangannya ketika sepak bola Sulut pada PON di tahun 1990 yang menggondol medali perunggu.

“Satu kerinduan di Sulut akan ada lagi prestasi yang membanggakan seperti ini bahkan lebih,” ucapnya.

Kata dia, saat ini tidak mustahil kejayaan sepak bola Sulut akan kembali.

“Asalkan ada kekompakan bersama. Tidak ada yang terkotak kotak karena satu kepentingan pribadi. Dahulu hanya ada 1 persma Manado, kita rindu ada 1 tim yang berasal dari Sulut yang berbicara di tingkat nasional,” harapnya.

Herry Inyo Rumondor, selaku pemerhati sepak bola Sulut membeber tentang kepedulian mantan Gubernur Sulut EE Mangindaan terhadap dunia sepak bola di masanya.

Kata dia, saat itu Mangindaan menjawabnya dengan menjadikan sepak bola menjadi mainan masyarakat.

“Kalau sekarang pada kenyataannya Sepak bola itu merupakan permainan dari pada elit-elit. Bukan mainan masyarakat atau mainan para pemain atau atlit,” ucapnya.

Lanjut dia, tentunya dengan satu harapan, disepakati bersama pemerintah dapat mendukung penuh kemajuan sepak bola di Sulut.

“Kita bersatu. Singkirkan kepentingan atau peran para elit untuk kemajuan dunia sepak bola Sulut,” bebernya.

Sementara, Ram Makagiansar, Koordinator Sepak Bola U16 Sulut menuturkan, di Sulut saat ini yang sangat dibutuhkan yaitu pembinaan pemain usia muda.

Sebagaimana pembinaan ini merupakan tanggung jawab bersama. Sehingga diperlukan koordinasi dengan beberapa stek holder baik pemerintah dan berbagai elemen penunjang bersama.

“Sangat bersyukur lewat diskusi bersama ini bisa berjalan dengan adanya tanggapan poaitif baik Dispora manado dan provinsi Sulut dengan dimulai kembali atau mengangkat pemain usia muda,” katanya.

Makagiansar menerangkan, saat ini Sulut memiliki banyak potensi muda dalam sepak bola. Tetapi ketika kompetisi tidak ada, tentunya percuma.

Menurut dia, era sepak bola Sulut sekrang tidak lepas dari politisi.

Saat ini, pihaknya sementara mempersiapkan pembinaan usia muda pemain sepak bola U 14 dan U 16. Namun hal tersebut membutuhkan sebuah kompetensi.

“Tentunya kita sangat mendukung program PSSI. Semua akan terbukti ada pemain muda postensial dari sulut bermain di liga nasioanal. Ini bagian dari pemberdayaan olahraga khususnya generasi muda Sulut,” ucapnya.

Ketua Persma Manado 1960, Vecky Gandey mengungkapkan, yang menjadi kendala dari Persma Manado belum muncul banyak persoalan. kata dia, sepak bola di Sulut itu ada.

“Yang tidak ada industri sepakbola di indonesia. Sebab untuk mendapatkan

standar profesional pengelolaan sepak bola harus memliki stadion sepak bola sendiri,” ucapnya.

Dia menyebut, di Indonesia saat ini belum ada klub sepakbola mandiri yang memiliki stadion sendiri. Hanya menyewa stadion milik pemerintah.

“Itu artinya perkembangan sepakbola di Indonesia tidak terlepas dari campur tangan pemerintah,” ucapnya.

Meskipun demikian khusus Persma Manado 1960 terus berjalan. Berjalan meski banyak kendala.

“Tapi bukan berarti kita menunggu pemerintah baru bisa jalan. Memang diakui harus memiliki “Orang Gila” bola dalam mengembangkan dunia sepak bola di Sulut,” terangnya.

Begitu pun pemerintah harus menyiapkan sebuag kompetisi menggelar pertandingan usia muda. Sebab, jika ingin menjadi pemain usia muda harus ada klub.

Direktur Organisasi Asprov PSSI Sulut, Sevry Nelwan menyampaikan, diskusi yang digagas KSM kali ini sangat bagus. Artinya, bisa memberikan ruang untuk mengevaluasi sepak bola Sulut saat ini. Menurutnya, tim sepak bola dibentuk satu organisasi yang kuat.

Kalau pengurus organisasi bola dibentuk cuma lantaran like or dislike, tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Nah, di siniah peran Asprov Sulut,” tuturnya.

Sekretaris Umum (Sekum) Asprov PSSI Sulut, Janto Luasunaung mengungkapkan, berbagai upaya terus dilakukkan Asprov PSSI Sulut dalam memantapkan persiapan daerah ini menghadapi Pra PON.

Kami telah bekerja sama dengan pihak Unima untuk melakukan latihan tes kemampuan fisik. Minggu depan, tes awalnya akan mulai dilakukan,” ungkapnya.

Dia berharap, Dispora Sulut bisa mengawal usulan program melalui APBD. Pasalnya, ada dua kegiatan yang sementara dilakukan, baik pelatihan pemain dan perwasitan.

Kita juga program Kementrian untuk dapat membantu program Asprov PSSI Sulut. Intinya, jika ingin sepak bola daerah ini maju, kita harus bersatu bersama,” tukasnya. (fernando kembuan/ivo)