AS: Kerahkan S-300 ke Suriah, Rusia Picu Eskalasi Serius

oleh
Sistem rudal pertahanan udara S-300 Rusia. Foto/REUTERS

WASHINGTON – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan Rusia memicu eskalasi serius karena mengerahkan sistem rudal pertahanan udara S-300 ke Suriah.

Menurut juru bicara departemen tersebut, Heather Nauert, Washington sejatinya berharap Moskow tidak menyebarkan senjata pertahanan itu ke Suriah.

“Saya tidak bisa memastikan bahwa (senjata) itu akurat. Saya harap itu tidak, itu akan menjadi eskalasi dan keprihatinan serius,” kata Nauert dalam konferensi pers hari Selasa waktu Washington ketika ditanya tentang reaksi pemerintah Washington laporan pengiriman sistem S-300 Rusia ke rezim Damaskus.

Sementara itu, juru bicara militer AS Kolonel Sean Ryan menyatakan bahwa keputusan Moskow untuk menyediakan Suriah dengan sistem S-300 tidak berdampak pada pasukan pimpinan AS di lapangan. “Itu tidak mengubah apa pun,” kata Ryan, seperti dikutip Sputnik, Rabu (3/10/2018).

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu dalam pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin pada hari Selasa petang waktu Moskow mengumumkan bahwa pengiriman senjata pertahanan itu sudah rampung. Pemasangannya akan diselesaikan pada 20 Oktober mendatang.

“Mengenai sistem kontrol pertahanan udara terpadu, kami telah mulai mengirimkan peralatan dan akan sepenuhnya menyelesaikan semua pekerjaan pada persiapan dan pelatihan para kru, penciptaan satu jaringan pada 20 Oktober,” kata Shoigu.

Menurutnya, pengiriman sistem S-300 itu juga mencakup 49 unit perangkat keras militer. Tujuannya untuk meningkatkan keamanan personel militer Rusia yang bertugas di negara yang sedang dilanda perang tersebut.

“Kami telah menyelesaikan pengiriman sistem S-300, yang mencakup 49 unit peralatan— radar, naturally, sistem akuisisi target dasar, pos komando, serta empat peluncur,” kata Shoigu

Lebih lanjut, Shoigu mengatakan bahwa para ahli Rusia akan mengajarkan personel Suriah untuk mengoperasikan sistem pertahanan udara S-300 dalam waktu tiga bulan.

Menurut pejabat senior Moskow, Rusia telah meningkatkan kemampuan perang elektroniknya di Suriah dan memantau radius hingga 200 km (124 mil) dari tempat terjadinya serangan sebelumnya.

“Kami telah sangat memperkuat kemampuan peperangan elektronik. Kami mengirim peralatan tambahan di sana. Sebagai hasilnya, kami mengendalikan zona jarak pendek dalam radius 50 km dan zona jarak jauh—arah utama dari mana penyerangan dilakukan—dalam radius 200 km,” kata Shoigu.

Pengiriman sistem rudal itu sebagai bagian dari tanggapan Rusia atas jatuhnya pesawat Il-20 Rusia yang menewaskan 15 tentara Moskow di Latakia. Pesawat itu tak sengaja ditembak jatuh oleh sistem rudal S-200 Suriah saat merespons serangan empat jet tempur F-16 Israel pada 17 September lalu. Moskow menuduh pilot Israel sengaja menggunakan pesawat Il-20 sebagai perisai selama serangan mereka terhadap target di Suriah.

(sindonews.com)