Gabriella Sayers Ingin Ayahnya Dimakamkan di Minahasa Utara

oleh
Gabrilla Sayers saat menujukkan akta kelahiran dirinya bersama kakaknya yang merupakan anak dari Petrus Sayers, korban bencana jatuhnya Pesawat Lion Air JT-610, Rabu (7/11/2018). (Foto:Istimewa)

ADA banyak cerita sedih di balik kecelakaan Pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang. Hingga masuk hari kesepuluh pascajatuh pada 29 Oktober 2018 lalu, sudah ada korban yang dimakamkan.

Namun begitu, masih ada juga keluarga yang menanti proses identivikasi. Bahkan, ada yang sudah teridentivikasi namun belum bisa dipulangkan keluarga untuk dimakamkan.

Cerita haru akan kenangan tentang korban pesawat nahas yang baru dua bulan mengudara tersebut, menghiasi media massa Tanah Air.

Ada yang kehilangan anak, ayah, ibu, istri, suami bahkan saudara yang disayang, dibanggakan, bahkan menjadi tulang punggung keluarga.
Begitu juga Petrus Rudolf Sayers, 58. Petrus tercatat sebagai salah satu dari 189 korban.

Istri dan anak Petrus tercatat sebagai warga Matungkas, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara (Minut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Rabu (7/11/2018), wartawan KORAN SINDO MANADO bersua dengan salah satu anak korban, Gabriella Sayers. Raut kesedihan terpancar jelas di wajahnya.

Air mata tak bisa dibendung saat ia menceritakan bahwa ayahnya adalah salah satu korban. Mirisnya lagi, ia dan ibunya Yuke Meyske Pelealu, besarta kakaknya Githa Christy Sayers, masih berjuang untuk membawa ayahnya pulang untuk dimakamkan di Minut.

Diketahui, proses identivikasi jenazah Petrus sudah dilakukan dengan mengambil DNA anaknya Githa Christy Sayers. Namun sayang, berdasarkan informasi, jenazah Petrus belum bisa dikebumikan karena masih ada masalah.

Bukan tanpa sebab, jenazah Petrus ternyata diperebutkan di Jakarta. Sejumlah perempuan mengaku sebagai istri Petrus.
Ia mengakui bahwa ayahnya telah berpisah lama dengan ibunya Yuke Meisky Pelealu sejak dirinya masih duduk di sekolah dasar. Namun hingga kini, ibu dan ayahnya masih memiliki ikatan sah sebagai suami istri.

“Memang papa saya dari informasi yang beredar katanya telah memiliki sejumlah istri. Ini yang membuat saya dan keluarga sulit memulangkan jenazah ayahnya ke Manado. Kondisi keluarga kami telah memang telah berpisah cukup lama. Papa tidak pernah tinggal di Manado, namun papa dengan mama secara hukum masih sah sebagai pasangan suami istri,” akunya.

Gabriella mengatakan, saat mengetahui peristiwa kecelakaan pesawat Lion Air, dia bersama keluarga tidak menyangka ayahnya ikut menjadi salah satu korban. Informasi dari kakaknya, Petrus memang hendak bepergian ke Batam dalam satu urusan pekerjan. Namun tidak diketahui bahwa menggunakan pesawat Lion Air jurusan Jakarta-Pangkal Pinang.

“Mungkin saja pesawat yang akan digunakan papa ke Batam tapi harus transit melewati Pangkalpinang. Baru diketahui papa menjadi salah satu korban kecelakaan Lion Air saat beredar rilis list resmi di media sosial,” tuturnya.

Kata dia, ayahnya diklaim beberapa orang perempuan bahwa telah menikah sirih. Pengakuan tersebut, bukan hanya datang dari seorang perempuan saja, namun beberapa yang mengaku sudah menjadi istri sahnya dari papa.

Yang menjadi persoalan, kata dia, seorang perempuan bernama Lidia Livina mengaku bahwa ayahnya telah menjadi suami sahnya lewat satu pernikahan.
Pertengkaran pun sempat terjadi antara dia bersama keluarga dengan perempuan tersebut, untuk memperebutkan jenazah ayahnya.

“Saya dan keluarga sempat kecewa kepada pihak Lion Air bersama dengan kepolisian yang terkesan lebih membela perempuan itu, dari kami secara hubungan darah antara anak dan ayah. Ini kan aneh, namun saya telah berpesan kepada kakak dan mama untuk tidak menghiraukan sejumlah perempuan yang mengaku suami dari papa. Kakak dan ibu saya hingga saat ini terus menjaga jenazah papa hingga dapat dipulangkan ke Minut,” ucapnya.
Gabriela mengatakan, sore hari (kemarin) akan bertolak ke Jakarta menjemput jenazah papa.

Kata dia, kedatangan di sini hendak mengambil sejumlah dokumen dan berkas untuk dibawa, sebagai pegangan mengahadap pihak kepolisian dan pihak Lion Air yang paling bertanggung jawab terkait pemulangan jenazah.

“Kami masih keluarga sah, meskipun telah terpisah cukup lama. Ini bukan tentang permasalahan biaya asuransi. Ini masalah tetang seorang anaknnya yang hendak menginginkan membawa pulang jenazah papa untuk dimakamkan di kampung halaman kami,” ucapnya.
Gabriella pun berharap, pihak Lion Air bersama dengan kepolisian dapat memahami kami sekeluarga yang kehilangan sosok seorang ayah.

“Saya berdoa, meminta pertolongan Tuhan agar ketika saya ke Jakarta sudah ada kabar gembira papa bisa dipulangkan ke Minut. Berharap demikian, mohon bantuan teman-teman dan saudara,” tukas Gabriella, sambil menambahkan bahwa di rumah ibunya di Perumahan Green Vilage Matungkas, telah berdiri tenda duka menyambut kepulangan almarhum papa.

Warga setempat pun sudah menyiapkan acara penyambutan papa dengan dilakukan ibadah bersama. (Fernando Kembuan/cr)