Renggut Enam Nyawa di Awal 2019, Puncak Virus DBD di Bulan April

oleh -
Pasien DBD yang dirawat di lorong irina E Rumah Sakit Prof Kandou, kemarin. (FOTO: Marcos Budiman)

MANADO- Warga Sulawesi Utara(Sulut) patut meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Demam Berdarah Dengue (DBD). Pasalnya, wabah virus yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti tersebut diprediksi kini baru akan memasuki puncaknya. Diketahui berdsarkan data yang dihimpun sudah ada enam pasien DBD meninggal dunia hingga, Rabu (9/1/2019).

Ketua Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Anak RSUP Prof Kandou dr Suryadi Tatura mengungkapkan, gejala paling menonjol terserang DBD adalah deman dan nyeri di kaki maupun tangan.

“Serta nyeri perut, mual dan muntah. Banyak yang menyangka nyeri perut lantaran maag. Tapi saat ini, jika merasakan nyeri perut segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan karena berpotensi besar telah terserang DBD,” terang Suryadi, Rabu (9/1/2019).

Dia mengungkapkan, lebih cepat warga memeriksakan sakitnya akan lebih menghindarkan dari potensi bahaya. Betapa tidak, hanya hitungan jam jika terlambat dilakukan penanganan, bisa mengancam nyawa penderita.

“Hanya selisih jam saja, penderita bisa tidak tertolong jika tidak mendapat penanganan dengan tepat,” sebutnya.

Suryadi menjelaskan, sesuai penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir, virus DBD menggila tahun ini lantaran memasuki siklus sepuluh tahunan.

“Pada 2009 lalu, penderita DBD melonjak pesat. Dan periode 2019 ini, telah diprediksi bakal ada lonjakan pesat. Bukan hanya di Sulut tapi di seluruh Indonesia,” bebernya.

Dokter yang mendalami DBD ini mengaku, saat ini siklus sepuluh tahunan baru akan mulai memasuki puncaknya. Periode virus DBD adalah Oktober 2018 hingga April 2019. “Sekarang penderita dan korban mulai meningkat. Jika pada periode Oktober-Desember ada sepuluh yang meninggal dunia, di 2019 ini, sudah ada empat yang meninggal di RSUP Prof Kandou,” terangnya.

Dia pun meminta warga untuk menangkal peredaran virus ini dengan giat kebersihan lingkungan. “Saat ini, yang utama harus dilakukan adalah pencegahan. Yakni dengan membasmi sarang-sarang nyamuk dan tentunya dibarengi dengan membersihkan lingkungan sekitar,” imbaunya.

Sekadar diketahui, sejumlah rumah sakit kini kewalahan menangani pasien DBD. Pasalnya, daya tampung yang dimiliki terbatas. Di RSUP Prof Kandou, kapasitas penampungan hanya sekira 33 orang, namun kini pasien yang ditangani sudah 54 orang. Sehingga, sejumlah pasien kini harus harus dirawat di luar ruangan. Pihak RSUP Prof Kandou sendiri sudah mengajukan permohonan peminjaman 50 tempat tidur di Kodam XIII/Merdeka untuk mengantisipasi bertambahnya jumlah pasien. (KORAN SINDO MANADO/KIMGERRY)