Peneliti Buktikan Sehatnya Terumbu Karang di Teluk Manado

oleh -
Penyelam saat mendokumentasikan terumbu karang di Teluk Manado. (ist)

MANADO-Kondisi terumbu karang di wilayah perairan Teluk Manado ternyata baik. Hal ini sebagaimana hasil yang didapat para peneliti dan fotografer bawah laut saat melakukan ekspolrasi di perairan sekitar Tuguh Boboca yang berada di wilayah Pantai Malalayang, Senin(11/2) lalu.

Sebagaimana diungkapkan para peneliti yang tergabung dalam Program Scientific Exploration Sulawesi Utara (Sulut) saat memengambil dokumentasi, mereka pun merilis 3 foto terbaik yang menggambarkan kondisi karang di lokasi pendokumentasian.

Lokasi yang dipilih mulai dari perairan sekitar tugu Boboca merupakan 1 dari 8 site eksplorasi Teluk Manado. 8 site yang ditetapkan itu dimulai dari batas Kota Manado dan Kabupten Minahasa hingga perairan Tongkaina Kecamatan Bunaken.

Diketahui bersama eksplorasi ini akan dilakukan selang waktu 5 bulan, dimulai dari Januari hingga Mei mendatang. Lewat kegiatan ini, mereka berupaya mengidentifikasi jenis dan sebaran karang di Teluk Manado, serta melahirkan data untuk proses edukasi masyarakat.

Biondi Tampanguma, Koordinator Marine Biologi-Underwater Survey mengatakan, foto-foto yang didokumentasikan tim Scientific Exploration Sulut menunjukkan kesehatan karang di perairan sekitar pantai tugu Boboca.

Pada tahap awal, eksplorasi dilakukan di perairan sekitar pantai tugu Boboca. Dari kegiatan itu, tim Scientific Exploration Sulut memilih 3 foto untuk dipublikasi. Menurutnya, dengan dipubkikasikan foto ini satu harapan masyarakat dapat mengetahui kondisi bawah laut kota Manado.

Dijelaskan Tampaguma, foto pertama menunjukkan momen keluarnya tentakel dari 1 polip karang. Munculnya tentakel kata dia, karena aktifitas produksi atau mencari makan, yang biasanya terjadi pada malam hari.

Tapi, karena ini ada di daerah yang bisa membuat mereka berproduksi atau mencari makan, makanya keluarlah tentakel-tentakel ini. Dia juga muncul karena karang tidak dalam keadaan stres, bertumbuh baik, tidak terganggu dan bertumbuh sehat,” beber Tampanguma.

Selanjutnya foto kedua, kata Tampanguma foto tersebut adalah karang berbentuk massif. Keunikan foto ini karena karang bertumbuh dan menempel pada keseluruhan suatu batu karang. Kemudian, foto ketiga yang menunjukkan tentakel yang keluar pada karang berbentuk massif.

Tampanguma menuturkan, dirilisnya 3 foto terumbu karang di perairan sekitar Pantai Boboca, masyarakat bisa mengetahui dan ikut menjaga ekosistem laut. Karena kesehatan terumbu karang akan berbanding lurus dengan berlimpahnya ikan.

Ini bukti kecantikan karang di Malalayang. Kalau masyarakat tahu, mereka bisa jaga lingkungan sekitar. Agar terumbu karang yang bagus ini, bisa terus kita lihat di tahun-tahun berikutnya,” tandasnya.

Sementara Toar Pantouw, Koordinator Dokumentasi Scientific Exploration Sulut mengatakan, proses pendokumentasian dilakukan pada kedalaman maksimal 19 meter, luas 50 x 50 meter dan suhu air antara 24 hingga 30 derajat celcius.

Lama menyelam 91 menit. Visibilitas di perairan itu relatif baik, dengan jarak pandang 18 hingga 20 meter. Kami mendokumentasikan tutupan karang, jenis-jenis karang. Mengambil foto detil, juga video untuk karang,” kata Toar.

Disatu sisi, Stephen Robert, Koordinator Search, Rescue, Casualty Evacuation and Logistics selaku tim pendamping bertugas menjaga kemanan aktifitas dokumentasi menjelaskan, pihak memang telah menetapkan standar penyelaman. Kata dia, syarat yang harus dipenuhi adalah persiapan dan keamanan alat, serta kualifikasi tim dokumentasi. Syarat itu bertujuan untuk meminimalisir dampak di bawah laut.

Standar lain adalah setiap penyelam wajib mengisi surat bahaya akan adanya risiko dalam aktifitas penyelaman. Dengan menggunakan formulir itu, orang yang akan turun dalam pengambilan gambar, berbasis saintifik. Harus bersertifikat,” jelasnya.

Diketahui bersama, Tim Scientific Exploration Sulut masih akan melakukan pengamatan bawah laut di sekitar pantai Tuguh Boboca. Sebab, pada tahap awal, mereka belum berhasil menggambarkan topografi dasar laut, karena permasalahan teknis.

Kami akan melakukan pemetaan bawah laut pada minggu-minggu ini,” ujar Steve Jansen, koordinator Geomorphology and Hydro-oceanography.

Kami juga akan melakukan pemasangan palem pasang-surut (pasut) permanen di perairan Malalayang Dua untuk melihat pergerakan naik-turunnya permukaan air laut secara berkala di Teluk manado,” tambahnya.

Terpisah, Rignolda Djamaluddin, pimpinan Scientific Exploration Sulut menilai, kegiatan pendokumentasian dan identifikasi karang di Teluk Manado dapat disebut sebagai terobosan baru. Sebab, selama ini, belum ditemukan adanya aktifitas riset menyeluruh di kawasan ini.

Menurut dia, studi-studi bawah laut di Teluk Manado terbilang parsial dan terbatas. Belum ada penelitian yang secara spesifik mengkaji sistem di perairan tersebut. Karena itu, dia pun berharap, kegiatan Scientific Exploration bisa menjadi basis data, serta referensi terkini terumbu karang di Teluk Manado. 

Mudah-mudahan ini bisa jadi percontohan berbasis saintifik dan menarik lebih banyak orang untuk belajar,” terangnya.

Dikatakan Rignolda, tim Scientific Exploration nantinya akan melakukan evaluasi untuk memperoleh metode yang lebih baik, efisien dan bisa dipertanggungjawabkan. Dengan mencoba mengkaji struktur dan identifikasi komunitas karang.

Mudah-mudahan, kami bisa lakukan identifikasi. Sebisa mungkin hingga spesies, minimal genus,” tandas Rignolda, yang keseharian Dosen FPIK Unsrat itu. (Fernando Kembuan/Ilona Piri)