BI Sulut Awasi Dampak Inflasi Dari Komoditas Barito

oleh -
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut masih optimis memperkirakan laju inflasi Sulut pada 2019 akan tetap berada pada rentang 3±1% (yoy

MANADO—Bank Indonesia berupaya mengendalikan laju inflasi yang disebabkan bawang, rica (cabai) dan tomat (Barito) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi  Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan, di Sulut pihaknya tetap fokus mengendalikan pergerakan inflasi dari komoditas bahan dapur utamanya dari Barito. Sebab komoditas tersebut acapkali menentukan nilai inflasi di Sulut.

“Oleh karena Itu, bahan makanan seperti Barito di Sulawesi Utara tetap perlu menjadi prioritas dalam proses pengendalian inflasi Sulawesi Utara,” ujar Arbonas, Senin, 10/6/2019.

Arbonas mengatakan, ketiga komoditas tersebut menjadi penyebab utama tingginya  tingkat volatilitas inflasi di Sulut. Sebagai contoh pada Mei 2019 Sulut mengalami Inflasi sebesar 2,60%. Komoditas yang memberikan sumbangan/andil terbesar terhadap inflasi Kota Manado adalah tomat sayur sebesar 2,13%, cabai rawit sebesar 0,3847%.

Di bulan Juni 2019, Bank Indonesia juga memperkirakan masih akan terdapat tekanan inflasi namun dengan tingkat yang lebih rendah.

“Meningkatnya permintaan di awal Bulan Juni seiring perayaan Hari Raya Idul Fltri menjadi salah satu sumber tekanan utama inflasi di bulan Juni 2019,” paparnya.

Meskipun demikian Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut masih optimis memperkirakan laju inflasi Sulut pada  2019 akan tetap berada pada rentang 3±1% (yoy).

Sehubungan dengan hal tersebut dan dengan memperhatikan tantangan tahun 2019. Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) selalu berupaya meningkatkan koordinasi erat dan mengambil upaya-upaya bersama yang diperlukan guna:

(l) menjaga ketersediaan pasokan melalui Pelaksanaan Operasi Pasar dan Pasar Murah khususnya komoditas strategis;

(ii) menjaga keterjangkauan harga dan memastikan kelancaran distribusi melalui sidak Pasar secara Reguler serta pencanangan penanaman cabai rawit yang bekerjasama dengan beberapa elemen masyarakat,

serta (iii) pengelolaan ekspektasi masyarakat dengan perluasan akses informasi harga dan pasokan di pasar. (stenly sajow)