Sekolah Lapang Iklim Topang Produktivitas Pertanian di Sulut

oleh -
Sekolah Lapang Iklim (SLI) bisa meningkatkan produktivitas pertanian di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). KORAN SINDO MANADO

MANADO—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menilai ilmu dari Sekolah Lapang Iklim (SLI) bisa meningkatkan produktivitas pertanian di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Mewakili Deputi klimatologi BMKG Nurhayati  mengatakan,  SLI bermaksud memberikan pemahaman bagi tenaga penyuluh pertanian utamanya  untuk mengantisipasi perubahan iklim yang cepat. Cara ini dipercaya bisa memberikan kontribusi positif pada hasil panen.

SLI bisa meningkatkan produktivitas pertanian di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

“Dari yang kita alami di seluruh provinsi itu rata-rata pertumbuhan produksinya naik sekira 20%,” ujar Nurhayati   disela Sekolah Lapang  Iklim  Sosialisasi Agroklimat, Rabu, 25/7/2019.

Menurut dia, kenaikan produktivitas itu bisa terjadi pada komoditas apa saja. Bisa padi, jagung, atau tanaman lainnya yang diusahakan petani.

Nurhayati  mengatakan, kepada petani BMKG akan memberikan informasi seputar perubahan iklim. Sehingga dari informasi tersebut petani dapat memuaskan untuk melanjutkan menanam atau menggeser masa tanam.

“Kami menginisiasi langkah untuk antisipasi iklim ekstrim, karena sekarang trennya tidak menentu iklimnya,” paparnya.

Dia juga berharap, materi keikliman yang diberikan selama tiga hari dapat dimengerti para penyuluh. Supaya penyuluh dapat menjelaskannya langsung kepada petani dengan bahasa yang lebih sederhana.

“Semoga dengan mengikuti kegiatan sosialisasi ini  dapat semakin memahami masalah iklim dan dampaknya serta mendorong kita untuk terus belajar dan berkarya. Ilmunya bisa  ceritakan kepada sesama menyuruh khususnya petani,” ujarnya.

Kepala Stasiun Klimatologi Minahasa Utara Johan Jaconias Haurissa menerangkan, pihaknya sudah melakukan ujicoba mengenai teknik dalam Sekolah Lapang Iklim. Dari ujicoba twersebut hasilnya sangat memuaskan.

“Dari percobaan kami sejak 2017 produksi padi naik 10% sampai 20%. Yakni dari 5 ton per hektare bisa jadi minimal 5,5 ton,” jelasnya.

Dari pembelajaran tersebut kata dia, petani dapat menggeser pola tanam menyesuaikan dengan informasi perubahan iklim yang berasal dari BMKG. “BMKG bertugas memberikan informasi peringatan dini,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Minahasa Utara Wangke Karundeng mengapresiasi kinerja BMKG untuk membantu petani di daerah. “Langkah ini sudah bagus, petani memang sudah tahu tentukan bibit yang bagus tapi masalah iklim tentu ada pada BMKG,” tuturnya.

SLI ini kata dia, sebagai cara menggabungkan teknologi dengan kearifan lokal di Sulut. “Petani memang sudah biasa mengikuti penanggalan bulan untuk bercocok tanam, biarpun begitu akan terasa lengkap lagi kalau mendapat informasi iklim dari BMKG,” jelasnya

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Jusak Wongkar  selaku Kepala Laboratorium Agen Hayati Kalasey, juga penyuluh pertanian  kabupaten/kota  di Sulut. (stenly sajow)