Juli 2019, Neraca Perdagangan Sulut Surplus USD56,74 juta

oleh -
Kepada BPS Sulut Ateng Hartono. Foto/Istimewa

MANADO—Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Juli 2019 surplus.

Kepada BPS Sulut Ateng Hartono menerangkan, nilai neraca perdagangan Sulut yang diukur melalui penghitungan net ekspor (total ekspor dikurangi total impor) pada Juli 2019 mengalami surplus, senilai USD56,74 juta.

“Nilai ini mengalami sedikit kenaikan dibandingkan kondisi bulan sebelumnya yang tercatat senilai USD49,23 juta,” jelas Ateng, Selasa, 20/8/2019.

Namun kata Ateng, jumlah tersebut masih lebih kecil nilainya bila dibandingkan dengan Juli 2018, mengalami penurunan dari USD67,5 juta (y on y)

Nilai ekspor nonmigas Sulut pada bulan Juli 2019 tercatat mengalami peningkatan nilai Free On Board (FOB) sebesar 25,39% dibandingkan Juni 2019 yang senilai US$ 54,98 juta (m-to-m), bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2018 (y-on-y) mengalami penurunan, sebesar 3,13 persen. Komoditi ekspor pada bulan ini masih tetap didominasi oleh Minyak dan Lemak nabati (HS 15).

Nilai impor Sulut pada Juli 2019 mengalami peningkatan dibandingkan bulan yang lalu dengan peningkatan lebih dari 112% (m-to-m), demikian pula bila dibandingkan dengan nilainya di Juni 2018 (y-on-y), masih mengalami penurunan 12,51%.

Dilihat menurut golongan barang HS2 digit, Bahan bakar Mineral (HS 27) masih menjadi kontributor terbesar terhadap nilai impor Sulut pada Juli 2019. Golongan barang itu menjadi kontributor terbesar pada nilai impor bulan sebelumnya pula, nilai impor golongan barang ini mengalami peningkatan yang sangat besar dari nilainya pada Mei (m-to-m), yaitu sebesar lebih dari 180%. Selain terjadi peningkatan nilai ekspor, kontribusi golongan ini terhadap total impor juga meningkat, yang sebelumnya mencapai 40,51%, pada bulan Juli menjadi sebesar 54,31%.

Pada Juni 2019, Australia menjadi negara pemasok terbesar komoditi impor untuk Sulut, yaitu sebesar 48,49%. Menggantikan dominasi Malaysia pada bulan sebelumnya, adapun komoditas yang dibeli dari negara tersebut ada 13 golongan komoditi, dengan nilai terbesar adalah Bahan Bakar Mineral. (stenly sajow)