Sampah Ancam Biota Laut, Masyarakat Diajak Cintai Kebersihan

oleh -
Himpunan Mahasiswa Jurusan Kelautan (Himaju) Kelautan FPIK Unsrat saat sosialisi kepada calon anggota. (Ilona piri)

MANADO – Sulawesi Utara (Sulut) merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang dikenal memiliki kekayaan biota laut. Saat ini biota laut terancam oleh pencemaran limbah terutama sampah plastik.

Prihatin dengan hal tersebut Himpunan Mahasiswa Jurusan (Himaju) Kelautan FPIK Unsrat ajak masyarakat Sulawesi Utara menjaga laut dari sampah.

Ketua Himaju Kelautan, Moses Palias mengungkap, saat ini keberadaan sampah plastik di perarairan Sulut memprihatinkan.

“Sampah plastik di perairan Sulut sudah banyak, keberadaan sampah-sampah ini bisa mengancam biota laut. Plastik dan mikroplastik yang dikonsumsi ikan juga berbahaya untuk masyarakat yang mengkonsumsi ikan tersebut,” ungkapnya, Senin (2/9/2019).

Menurut Palias, sampah tak hanya terkonsentrasi di pinggir pantai dan pesisir, sampah juga tersebar di perairan dalam dan jalur kapal lewat seperti ke Sangihe, Talaud, dan pulau lainnya.

Oleh sebab itu, dirinya beserta anggota Himaju Kelautan lain berusaha terus mensosialisasikan bahaya buang sampah sembarangan.

“Kalau kita buang sampah sembarangan seperti di sungai atau selokan yang mengarah ke sungai, kita mungkin tidak tahu kalau sampah-sampah tersebut bermuara di laut. Sampah-sampah itu yang nantinya mencemari laut kita,” ujarnya.

Lanjut dia, banyak orang berpikir membuang sampah plastik walau hanya satu botol misalnya, tidak akan mempengaruhi lingkungan atau merusak biota laut.

“Padahal jika itu sampah satu orang saja dikali ratusan ribu bahkan jutaan orang, bisa dibayangkan berapa jumlah sampah yang mengotori laut Sulut,” tambahnya.

Sosialisi kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi biota laut Sulut juga menjadi program tetap Himaju Kelautan. Palias menjelaskan, saat ini sosialisi dilakukan hanya kepada masyarakat yang tinggal di pesisir, namun akan tetap dilakukan sampai seluruh masyarakat paham bahaya buang sampah sembarangan bagi laut.

Selain sosialisasi sampah Himaju Kelautan juga memiliki program lain untuk membantu pelestarian biota laut. Salah seorang anggota Himaju Kelautan, Rian Abdulrahman menuturkan, organisasi tersebut juga melakukan penanaman mangrove dan transplantasi karang.

“Kami juga aktif melakukan penanaman mangrove dan transplantasi karang. Selain hal tersebut merupakan hal yang wajib dilakukan karena memang bidang studi yang kami pelajari, saya pribadi senang melakukan karena di tiap menyelam sering bertemu karang yang rusak, padahal karang adalah rumah bagi banyak mahluk hidup bawah laut,” ujarnya.

Dirinya berharap, kedepannya pemerintah mempertimbangkan untuk membuat regulasi yang lebih ketat tentang menjaga laut dari sampah dan kerusakan lainnya. (Ilona piri)