BI Waspadai Pergerakan Harga Tomat Sayur di Sulut

oleh -
ank Indonesia terus  memantau dan mewaspadai pergerakan harga tomat sayur di pasaran. istimewa

MANADO—Bank Indonesia mewaspadai pergerakan harga tomat sayur di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Seperti diketahui di Sulut mengalami deflasi sebesar 1,50% pada Agustus 2019. Pendorong deflasi adalah tomat sayur sebesar 3,02%.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut (Sulut) Arbonas Hutabarat mengatakan, pergerakan harga komoditas tomat sayur masih menjadi sumber fluktuasi utama inflasi Bulanan Sulut dan selalu masuk ke dalam lima komoditas utama penyumbang inflasi maupun deflasi dalam delapan bulan terakhir.

“Oleh karena itu pergerakan harga tomat sayur masih tetap perlu diwaspadai dan menjadi perhatian oleh seluruh instansi/Iembaga/dinas terkait terutama memasuki periode permintaan  tinggi di akhir tahun,” papar Arbonas,  Selasa, 3/9/2019.

Arbonas  mengatakan, inflasi Sulut yang cukup tinggi pada bulan Mei dan Juni terutama disebabkan oleh kenaikan harga tomat sayur. Namun demikian, koreksi terhadap harga komoditas tomat sayur secara berangsur angsur terjadi pada Juli dan Agustus.

Untuk mengantisipasi tekanan inflasi dari pergerakan harga tomat sayur tersebut, perlu dirumuskan langkah-langkah dan strategi yang tepat. Khususnya dalam mengatasi kesenjangan permintaan dengan produksi, sebagaimana dicerminkan oleh tingginya volatilitas harga serta sumbangan komoditas tomat sayur terhadap inflasi Sulut.

Memperhatikan perkembangan inflasi hingga Agustus 2019. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut memperkirakan bahwa tekanan inflasi Sulut pada bulan September 2019 akan berada pada level moderat cenderung rendah seiring permintaan dan pasokan yang Iebih seimbang.

Ke depan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut optimis bahwa tingkat inflasi Sulut 2019 akan dapat dikendalikan dalam rentang sasaran inflasi nasional 3.5±1% (yoy).

Namun demikian, tetap perlu diwaspadai pasokan komoditas strategis yang masih perlu mendapat perhatian mengingat disparitas harga yang meningkat seiring kemarau panjang yang terjadi di Jawa dan Selatan Pulau Sulawesi berpotensi memberikan tekanan inflasi pada sub kelompok bumbu-bumbuan. Sementara itu gangguan cuaca berupa angin kencang memberikan risiko kenaikan inflasi Sulut terutama pada komoditas sub kelompok ikan segar.