Waspada Penyakit ISPA sebagai Risiko Kesehatan di Kabupaten Kepulauan Talaud

oleh -
Anggel Christia Dolonseda, Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. (Ist)

SALAH satu penyakit menular di Indonesia yang berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat yaitu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ISPA adalah penyakit saluran pernapasan akut khusus pada radang paru (pneumonia), dan sering terjadi pada balita atau anak-anak. Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek batuk kering atau berdahak.

Di Indonesia, infeksi saluran pernapasan akut menempati urutan pertama pada tahun 2008, 2009, dan 2010 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Indonesia. Survey mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2013 menempatkan ISPA sebagai penyebab kematian anak terbesar di Indonesia dengan presentase 32,10% dari seluruh kematian anak-anak.

Sulawesi Utara, tercatat pada tahun 2016 penyakit ISPA menempati urutan kasus terbanyak yaitu mencapai 46.077 kasus yang merupakan urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di berbagai puskesmas yang ada di Sulawesi Utara, khususnya penemuan penderita ISPA pada bayi. Menurut laporan Riskesdas tahun 2013 bahwa infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) tersebar di seluruh Provinsi Sulawesi Utara dengan bervariasi yaitu kota Bitung dan kota Tomohon masing-masing 0,5% dan tertinggi didapatkan di Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu 2,7% yang didominasi oleh anak dengan kisaran umur 1-5 tahun. Bahkan pada tahun 2019, ISPA masih menjadi penyakit dengan penderita terbanyak yaitu 18.136 penderita, disusul dengan penyakit darah tinggi sebanyak 10.117 penderita. Akan tetapi, menurut data dinas kesehatan Kabupaten Kepulauan Talaud penderita penyakit ISPA tahun 2019 menurun. Kebanyakan pasien dengan keluhan batuk dan sesak nafas, akan tetapi bukan termasuk penyakit ISPA dengan total pasien 6.372. Kemudian pasien yang dinyatakan positif terjangkit penyakit ISPA ada 3 pasien.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penyebaran penyakit ISPA di Kabupaten Kepulaun Talaud yaitu perilaku dari masyarakat yang tidak hidup bersih sehingga menimbulkan terjadinya ISPA antara lain meludah sembarangan dan tidak menutup mulut saat batuk, yang dapat menyebabkan penyebaran virus dan bakteri ke lingkungan.

Kebiasaan merokok, dimana bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan kepada perokok juga kepada orang-orang disekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak, dan ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ada anggota mereka yang merokok di dalam rumah.

Penggunakan obat nyamuk bakar, yang berbahaya bagi manusia karena kandungan bahan aktif yang termasuk golongan organofosfa yang merupakan jenis insektisida pembunuh serangga. Jika dihirup secara terus menerus berbahaya bagi paru-paru. Kemudian pengelolaan sampah dengan cara dibakar yang menghasilkan partikulat berupa debu atau abu dan gas hidrokarbon dapat mencemari lingkungan, polusi udara, dan mengganggu kesehatan masyarakat, terutama gangguan saluran pernapasan.

Selain perilaku masyarakat, kondisi bangunan rumah dan lingkungan  yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko dan sumber penularan berbagai jenis penyakit, khususnya penyakit berbasis lingkungan. Kepadatan hunian yang berlebihan, penyakit pernapasan dan semua penyakit yang menyebar lewat udara menjadi mudah menyebar. Kemudian ventilasi yang tidak memenuhi syarat merupakan risiko terjadinya ISPA. Sebenarnya tingkat pencemaran udara di Kabupaten Talaud belum termasuk dalam tingkat yang buruk. Karena di Talaud tidak ada pabrik yang beroprasi dalam skala yang besar untuk menghasilkan polutan. Akan tetapi, jika kebiasaan dan pola hidup masyarakat yang tidak sehat dilakukan secara terus menerus, akan mengakibatkan dampak berupa penyakit yang disebabkan oleh pengelolaan lingkungan yang buruk. Untuk itu, perlu adanya kesadaran masyarakat dalam mengubah perilaku agar dampak penyakit ISPA dapat ditanggulangi.

Adapun beberapa cara menanggulangi penyakit ISPA baik pada bayi maupun orang dewasa yaitu menerapkan pola hidup sehat serta perilaku masyarakat terhadap lingkungan yaitu pembersihan lingkungan untuk mencegah penularan tak langsung, terutama di ruang bersama, pada balita memiliki kondisi tubuh dengan sistem imun yang masih rendah yaitu dengan memberikan ASI eksklusif dan imunisasi pneumokokus atau disingkat imunisasi IPD yang dilakukan sebanyak 4 kali, mencuci tangan dengan sabun dan air atau antiseptik berbasis  alkohol, sedapat mungkin untuk membatasi kontak dengan orang sakit yaitu dengan menggunakan masker untuk menghindari menyebaran penyakit.

Selain peran dari masyarakat untuk menghindari penyebaran dan terjangkit penyakit ISPA, diperlukan peran dari pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud yaitu peningkatan program penyuluhan tentang sanitasi rumah sehat serta penerapan etika batuk atau pengadaan program pemberian masker gratis kepada penderita ISPA khususnya orang dewasa untuk mencegah penularan kepada anggota keluarga terutama pada balita.

Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Banyak aspek kesejahteraan manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan banyak penyakit dapat dimulai, didukung, ditopang, atau dirangsang oleh faktor-faktor lingkungan. Oleh sebab itu, perlu ada kerja sama antara masyarakat dan pemerintah untuk perbaikan dan pencegahan penyakit yang menular dan disebabkan oleh lingkungan. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan masyarakat untuk lebih berperan aktif dalam pencegahan penyakit ISPA sehingga meningkatkan kualitas dan pola hidup sehat. (*)