Ibu Rita dan Dokter Devi Perlihatkan Spirit Kartini dalam Upaya Melawan Covid-19

oleh
Rita Tamuntuan, istri Gubernur Sulut saat sedang menjahit masker untuk masyarakat. (Istimewa)

MANADO – Setiap tanggal 21 April selalu hangat ditelinga masyarakat lagu ‘Ibu Kita Kartini’ karangan dari WR Supratman. Memperingati Hari Kartini, banyak dilakukan kegiatan baik perlombaan dan sebagainya. Namun, kondisi pandemi virus korona (Covid-19), membuat semuanya berbeda karena banyak masyarakat harus tinggal di rumah.

Meski begitu, spirit perjuangan Kartini tetap terpatri bagi masyarakat, khususnnya yang diperlihatkan Ketua TP PKK Sulut, Rita Tamuntuan dan Wakil TP PKK Sulut, dr Devi Tanos. Keduanya menunjukkan hal yang luar biasa dalam ikut berjuang membantu penanganan virus korona.

Ibu Rita bersama kerabatnya menjahit masker untuk masyarakat, dan membagikan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis di rumah sakit dan rumah singgah. Aksi solidaritas dan kemanusiaan ini dilakukannya untuk memutus rantai penyebaran korona di Sulut.

“Ini salah satu upaya untuk membantu masyarakat dan juga tenaga medis yang sedang berjuang merawat pasien Covid-19,” ungkap Rita.

Dokter Devi Tanos (sebelah kiri) mengenakan pakaian APD membantu pelayanan kesehatan di rumah singgah. (Istimewa)

Sementara, dr Devi ikut bertugas di rumah singgah Bandiklat Maumbi untuk memeriksa kondisi kesehatan sejumlah orang dalam pemantauan (ODP) yang dirawat di tempat tersebut.

“Ya, harus bergantian dengan tenaga medis lainnya untuk bertugas di rumah singgah dan saya juga sudah bertugas sejak rumah singgah beroperasi, itu wajib bertugas dua hari dalam sepekan,” kata Devi belum lama ini.

Apa yang dilakukan Ibu Rita dan Dokter Devi menjadi bukti bahwa pandemi korona tak mampu menghambat kaum perempuan Sulut untuk berbakti bagi nusa dan bangsa.

Tak hanya di masa pandemi korona, keduanya setiap hari tak pernah meninggalkan peranan intinya sebagai istri yang setia menopang tugas suaminya sebagai gubernur dan wakil gubernur Sulut sekaligus menjadi ibu yang merawat anaknya dengan penuh kasih sayang.

Seperti kalimat dalam surat yang ditulis Kartini yang bisa menjadi pelecut semangat perempuan Sulut di masa pandemi ini.

“Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya,” tuturnya. (rivco tololiu)