Laporan : Wailan Montong (Kota Tomohon)
TUHAN tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Keyakinan ini menjadi spirit dari keluarga yang menjadi korban dari hantaman pandemi Covid-19. Perlu kebesaran hati untuk mampu menerima cobaan salah satu angota keluarga terjangkit virus korona.
Pengalaman bagaimana proses penguatan diri, siap menjalani proses karantina di rumah sakit, tidaklah mudah. Butuh kebesaran hati yang cukup, ini pula yang menjadi kesan bermakna dari salah satu keluarga di Tomohon. Sejak awal menjalani perawatan di ruang isolasi, masyarakat pasti mengenal bagaimana kisah adik Flo dari jejaring sosial, bayi usia satu tahun yang harus menjalani isolasi di RSUD Anugerah karena divonis sebagai pasien terkonfirmasi positif ke 125. Usai menjalani isolasi selama 18 hari, akhirnya pada Sabtu (6/6/2020) malam, bungsu dari tiga bersaudara ini bisa dinyatakan sembuh dari Covid-19. Apalagi, masa sulit di awal bayi mereka masuk ruang isolasi, FP, ibunda Flo harus menanggungnya sendiri, karena sang suami belum bisa meninggalkan tugas di luar daerah.
FP menceritakan apa yang dialaminya dan bagaimana kisah anaknya kala berada di ruang isolasi. “Sejak awal keadaan anak kami ini biasa saja tidak ada sakit apa pun, sebagaimana saat mulai masuk ruang isolasi keadaan begitu pula hingga bisa pulang ke rumah,” jelas wanita berusia 35 tahun ini saat diwawancarai KORAN SINDO MANADO/SINDOMANADO.COM di kediaman mereka di Kelurahan Tumatangtang Satu, Senin (8/6/2020).
Hati sempat gunda, saat mengetahui si mungil kesayangan mereka dinyatakan sebagai pasien Covid-19. “Di awal masa sulit pastinya hati sempat terpukul saat mendapat informasi anak kami harus mendapat perawatan di ruang isolasi, apalagi saat itu saya tidak ditemani suami yang bertugas di luar daerah. Tinggal berserah kepada Tuhan mohon penguatan, dan bersyukur kebaikan Tuhan tiada taranya, dimana kami bisa melalui ini, ditemani para keluarga, kerabat, para hamba Tuhan yang terus menyemangati kami sehingga dimampukan melalui cobaan ini,” jelas ibu tiga anak ini.
Keseharian di ruang isolasi selama 18 hari dilaluinya dengan penuh sukacita. “Melihat anak ini dalam keadaan biasa-biasa saja menambah semangat kami untuk tetap tekun. Anak ini menghabiskan hari-harinya di ruang isolasi dengan istirahat, berjemur di pagi hari dan bermain-main, bahkan sempat ada kejadian anak kami terjatuh dari tempat tidur, sontak membuat saya takut, tetapi saat diperiksa tidak apa-apa, hasil swab tiga kali menunjukan negatif sehingga dokter mengizinkan kami pulang,” lanjutnya sambil menggendong adik Flo yang tidak ingin melepas botol susunya.
Ibu rumah tangga ini mengakui, lewat kejadian ini menjadi satu pelajaran hidup bagi semua tidak ada gunanya saling menuduh atau menghakimi, selalu berusaha menjauhkan hal-hal yang seperti itu, tidak ada yang mau menjadi korban. “Kami ingin menunjukkan kejadian ini betapa besarnya kuasa Tuhan, kami sekeluarga bahkan tidak ada satu pun yang menyangka akan menerima cobaan ini, yang lebih menganehkan kami seisi rumah maupun tetangga yang sering kontak dengan anak kami tidak ada yang terjangkit ini ditandai dengan hasil medis, dengan terus memohon pertolongan Tuhan digenapi dengan dukungan dari keluarga, saudara, jemaat dan orang lain kami bisa melalui ini semua,” pesannya.
Pergumulan keluarga ini sungguh luar biasa, dimana ayah adik Flo nanti bisa pulang beberapa hari setelah anak bungsunya masuk ruang isolasi. “Saya sempat syok begitu mengetahui anak bungsu kami positif Covid, sedih dan pikirian terganggu karena di masa sulit istri, saya belum bisa mendampingi karena masih berada di tempat tugas, mengingat harus memenuhi persyaratan sesuai protokol Covid-19 sehingga saya bisa pulang sekitar lima hari anak kami ini berada di ruang isolasi,” ujar ASN di salah satu daerah Kepulauan Sulut ini.
Cobaan yang menimpa keluarga kami ini sempat membuat pria berusia 43 tahun ini terpukul. “Istri saya menelpon bahwa anak kami ini positif Covid-19 dengan keadaan menangis, bersyukur mendapat izin dari pak Sekda tetapi karena harus menyiapkan segala proses sesuai protokol kesehatan, akhirnya bisa pulang bertemu dengan keluarga,” jelas mantan lurah di salah satu daerah ‘zona hijau’ di Sulut ini.
Keluarga ini mengakui besarnya dukungan dari seluruh pihak menjadikan mereka kuat. “Limpah syukur dan terima kasih kepada Tuhan, para dokter dan perawat yang membantu kami selama di ruang isolasi, para hamba Tuhan, pelayan khusus, saudara dan jemaat yang terus membantu menguatkan kam. Saat kami pulang langsung disambut dengan baik dan telah dilayani lewat doa bersama, intinya kami mengharapkan tidak ada lagi stigma negatif bagi semua yang bersinggungan dengan penyakit ini baik itu para pasien, tenaga medis dan petugas lainnya,” harap keluarga ini. (*)


Tinggalkan Balasan