Masker Scuba dan Buff Tak Disarankan, Dinilai Kurang Efektif Tangkal Covid-19

oleh -

MANADO– Penggunaan masker jenis scuba dan buff hendaknya dihindari  secara luas, bukan  hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang hendak menggunakan jasa kereta rel listrik (KRL) komuter Jabodetabek. Langkah ini urgen dilakukan mengingatkan kedua jenis masker tersebut memang tidak layak  dimanfaatkan untuk mencegah paparan virus corona Covid-19.

Bukan hanya tipis,   bahan kedua jenis masker tersebut mudah molor dan tidak berlapis sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya  mencegah terpapar droplet tidak bisa terpenuhi sesuai dengan rekomendasi badan kesehatan dunia WHO. Penggunaan kedua jenis masker juga sering tidak sesuai dengan protokol kesehatan karena memang multifungsi.

Kurang efektifnya penggunaan masker scuba dan buff untuk menangkal partikel virus ini juga tak ditampik Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Sulut, dr Steaven Dandel. Dia menyebut bahwa sebaiknya masyarakat minimal memakai masker yang terbuat dari bahan kain.

“Makanya di awal selalu disampaikan bahwa masker kain yang dibuat sendiri atau dibuat oleh industri harus pake lapisan tambahan di dalamnya,” ujarnya kepada wartawan KORAN SINDO MANADO lewat aplikasi pengirim pesan WhatsApp, kemarin.

Masker kain ini, kata Dandel, haruslah memiliki tiga lapisan atau biasanya disebut 3ply, agar dapat meminimalisasi pemakainya terkena oleh penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 ini. “Iya (Pakai masker 3ply). Itu guidelines (pedoman) WHO untuk memakai masker kain tiga lapis,” ungkap Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkesda Sulut ini.

Dia pun mengimbau kepada masyarakat Sulut yang masih harus beraktivitas sehari-hari dan memakai masker jenis scuba atau buff, agar sebisa mungkin menambah satu lapisan pelindung lagi di dalam masker yang dipakai. “Sebisa mungkin ditambah lapisan di dalam masker seperti menggunakan tissue,” kuncinya.

Selain masalah efektivitas menyaring virus Covid-19, dorongan penggunaan masker yang berkualitas juga patut mendapat perhatian mengingatkan penambahan kasus Covid-19, terutama di DKI Jakarta, terus meningkat. Bahkan kemarin kasus penambahan di ibu kota mencapai rekor baru, bertambah 3.963 kasus.

Wakil Ketua DPR Koordinator Ekonomi dan Keuangan (Korekku) Sufmi Dasco Ahmad  sepakat penggunaan masker jenis scuba dan buff dihindari untuk aktivitas secara luas selama pandemi ini  karena tidak terlalu efektif menangkal persebaran Covid-19. “Jadi memang menurut hasil penelitian masker scuba atau buff itu untuk bakteri atau virus, ketahanannya lebih rentan kalau menurut penelitian,” kata Dasco kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta,  kemarin.

Sebagai kompensasi,  politikus Partai Gerindra  meminta  pemerintah menjamin ketersediaan masker yang dianjurkan di masyarakat. Sehingga, masyarakat tidak perlu mengkahatirkan kelangkaan masker. “Terlebih lagi, pemerintah harus mencari jalan keluar bagaimana kesediaan dan ketersediaan masker di masyarakat,” ujar mantan Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR itu.

Hingga kemarin,  Satgas Penanganan Covid-19 belum tegas melarang penggunaan masker scuba dan buff untuk perlindungan diri selama pandemi ini. Namun satgas mengakui kedua jenis masker tersebut terlalu tipis dan hanya satu lapis, sehingga kemungkinan untuk tembus, tidak bisa menyaring lebih besar. Karena itu, satgas menyarankan masyarakat menggunakan masker yang berkualitas.

Selain itu, masker scuba sering mudah untuk ditarik ke bawah, ke dagu. Sehingga fungsi masker jadi hilang. Maka dari itu, gunakan masker dengan cara yang tepat untuk melindungi dan menutup area batang hidung, hidung, sampai mulut dagu dan rapat di pipi,” ujar Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.

Wiku menuturkan, masker yang baik adalah masker bedah. Masker kain berbahan katun juga bagus jika berlapis tiga sehingga memiliki kemampuan  filtrasi atau menyaring partikel virus ini akan lebih baik dengan jumlah lapisan yang lebih banyak.

“Jadi masker ini adalah salah satu cara pencegahan yang digunakan untuk mencegah penularan covid-19. Kita pahami ini semua dengan baik. Dan semua masyarakat terutama yang ada di daerah publik, berinteraksi dengan orang lain, harus menggunakan masker,” katanya.

Efektivitas penggunaan masker jenis scuba dan buff untuk mencegah penyebarluasan Covid-19 mendapat perhatian setelah PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengeluarkan aturan baru terkait pencegahan penularan Covid-19 di dalam kereta rel listrik (KRL) komuter Jabodetabek.

Dalam akun Instagramnya, PT KCI meminta para penumpangan yang hendak melakukan perjalanan dengan menggunakan layanan KRL tidak menggunakan masker scuba dan buff dengan alasan masker jenis tersebut terlalu tipis, sehingga tak bisa menjamin droplet yang menjadi media virus Covid-19 teradang. (Fernando Rumetor)