Tingkatkan Potensi Pisang Abaka sebagai Biodiversity Unggulan di Kabupaten Kepulauan Talaud

oleh -
(FOTO: Istimewa)

CATATAN :
Anggel Christia Dolonseda
(Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta)

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas merupakan variasi dan variabilitas kehidupan di Bumi. Keanekaragaman hayati biasanya merupakan ukuran variasi pada tingkat genetik, spesies, dan ekosistem. Begitu pentingnya manfaat biodiversitas yang ada sehingga memberikan dampak yaitu menyediakan jasa bagi ekosistem seperti air minum, pembentukkan dan perlindungan tanah, penyimpanan dan daur hara, mengurangi dan menyerap polusi, menjaga stabilitas iklim, melindungi ekosistem dan membantu penyerbukan tanaman. Selain itu, keanekaragaman hayati atau biodiversitas bermanfaat sebagai sumber daya hayati seperti makanan, obat-obatan, bahan baku industri, tanaman hias, stok pemuliaan dan penyimpanan populasi. Indonesia memiliki keanegaragaman hayati yang begitu besar salah satunya pisang abaka (Musa textilis Nee).

Abaka (Musa textilis Nee) merupakan tanaman sejenis pisang penghasil serat termasuk dalam famili Musaceae. Beberapa daerah di Indonesia, mengenal tanaman abaka dengan beragam nama seperti Pisang Manila (Manado), Cau Manila (Sunda), Kofo sangi (Minahasa). Abaka dikenal dengan beberapa nama seperti pisang serat, Manila Hemp, Manila Henep, pohon kofo atau hote (Sangihe-Talaud). Produksi utama dari tanaman abaka ini adalah serat abaka yang pada awalnya hanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan tali tambang kapal dan bahan pakaian. Namun penelitian-penelitian lebih lanjut yang berjalan seiring dengan perkembangan teknologi, telah mampu memaksimalkan kegunaan serat abaka. Serat abaka terkenal sebagai serat berkualitas tinggi yang digunakan sebagai bahan baku kebutuhan berbagai macam industri seperti tekstil, kertas dan bahkan otomotif.
Tanaman abaka paling baik ditanam pada tanah yang gembur dengan tingkat kesuburan sedang sampai tinggi dan memiliki tekstur lempung berpasir atau lempung berdebu, tidak ada lapisan cadas, temperatur optimum sekitar 27°C dan kelembaban udara optimum 78-88%. Salah satu wilayah di Indonesia yang memenuhi persyaratan teknis untuk budidaya tanaman abaka ini adalah Kabupaten Kepulauan Talaud, yang memiliki tanah subur dengan kelembaban optimum 79-88% dan temperatur rata-rata 27.5°C. Selain itu, Talaud juga memiliki ketersediaan lahan yang cukup untuk budidaya tanaman abaka. Data penggunaan lahan tahun 2010 menunjukkan bahwa 28.19 % lahan masih dalam bentuk hutan lebat sedangkan 20.48 % adalah wilayah perkebunan.

Sampai dengan tahun 2010, pisang abaka masih menjadi salah satu komoditas penunjang yang diusahakan oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud. Komoditas utama adalah tanaman kelapa, pala dan cengkih. Menyadari potensi abaka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud telah mencanangkan abaka sebagai salah satu produk unggulan masyarakat Talaud pada tahun 2012. Pencanangan ini telah diikuti dengan penandatanganan Memorandum of Understanding dengan pihak Bank Indonesia maupun investor seperti PT. Dharma Bumi Berdikari. Kecamatan Essang di Kabupaten Kepulauan Talaud saat ini menjadi salah satu sentra budidaya pisang abaka.

Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Talaud menunjukkan bahwa selang tahun 2005 hingga 2010 terdapat sekitar 109 ha luas areal lahan yang ditanami abaka. Keempat kecamatan tersebut adalah kecamatan Beo (25,50 ha), Rainis (7,50 ha), Tampan’amma (0,10 ha) dan Essang (75,90 ha). Menurut informasi dari penduduk, tanaman abaka juga tumbuh secara liar di beberapa wilayah lainnya di Kabupaten Kepulauan Talaud. Dari pihak pemerintah daerah dukungan kebijakan sangat jelas terlihat. Selain telah mencanangkan budidaya abaka sebagai produk unggulan, pembangunan infrastruktur jalan ke sentra pengembangan abaka juga telah diprioritaskan sejak tahun 2013. Selain itu, keseriusan pemerintah tercermin juga dari upaya penyediaan 5000 ha lahan untuk budidaya abaka. Demikian juga, penyediaan mesin (misalnya mesin pemangkas rumput) telah mulai mendapat perhatian.

Komoditas eksport abaka di dunia adala Filipina saat ini menyuplai 75% dan Ekuador menyuplai 25% kebutuhan serat abaka dunia. Jika kemampuan produksi Filipina 50.000 ton per tahun dan produksi Ekuador 11.000 ton per tahun, dan kebutuhan pasar dunia mencapai 600 ton per tahun, maka pasokan saat ini hanya mencapai 1/10 kebutuhan serat abaca dunia. Kondisi permintaan pasar dunia ini memberi peluang bagi daerah endemik pisang abaca seperti Kepulauan Talaud, Kepulauan Sangihe, bahkan mungkin daerah lainnya untuk memasuki pasar yang belum mampu dipenuhi oleh dua negara produsen utama serat abaca. Dengan kelebihan dan keunggulan pisang abaca Talaud yang relatif lebih besar, dan tumbuh subur di wilayah kepulauan ini, Talaud dapat memanfaatkan potensinya untuk merambah pasar serat abaca dunia. Agar mampu mencapai itu semua, maka sejak dini hendaknya dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan kontrol (manajemen) yang baik dalam setiap upaya, langkah, dan implementasi program pengembangan abaca.

Akan tetapi, masalah yang timbul di lapangan adalah dalam proses peningkatan potensi pisang abaka di Talaud meskipun memiliki prospek pasar dalam dan luar negeri yang cukup baik namun untuk budidaya tanaman abaka para petani abaka harus membiayai sendiri mulai dari proses penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Sejauh ini belum terdapat data adanya bantuan pembiayaan dari instansi perbankan untuk budidaya tanaman abaka yang terbuka bagi individu maupun kelompok. Selain itu, proses monitoring dari kualitas pisang abaka kepada investor jarang dilakukan khususnya oleh pemerintah. Proses monitoring ini penting dilakukan, karena jika kurangnya perhatian pemerintah untuk mejalankannya, dapat melunturkan semangat investor untuk tetap berinvestasi di Kabupaten Kepulauan Talaud bila pemerintah daerah tidak membantu mengatasi kendala teknis yang mereka hadapi di lapangan.

Oleh karena itu, untuk memaksimalkan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator dan mediator dalam pengembangan potensi unggulan ini, ada hal yang perlu mendapat perhatian secara khusus, yakni karena saat ini wilayah Essang menjadi sentra pengembangan abaka maka sebaiknya didirikan Kantor Perwakilan Pengembangan Potensi Unggulan (PPU) di wilayah ini. Hal ini untuk menjamin bahwa pengembangan produk unggulan abaka benar-benar berjalan sesuai rencana dan strategi pemerintah daerah. Dengan demikian maka monitoring dan evaluasi akan senantiasa dilakukan sehingga kendala-kendala yang ada dapat segera diatasi. Selain itu, kantor Perwakilan PPU dapat juga memberikan rekomendasi kepada pihak Bank mengenai perorangan maupun kelompok yang potensial untuk diberikan pinjaman, agar pengembangan pisang abaka dapat terus dikelola.

Selain pentingnya program evaluasi dan monitoring pemberdayaan masyarakat dari pemerintah, proses pembibitan yang tujuannya untuk konsevasi bibit abaka yang berkualitas perlu dilakukan sejak dini. Salah satu bentuk konservasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas bibit abaka adalah dengan teknologi kultur in vitro. Kultur in vitro merupakan suatu cara perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian-bagian tanaman seperti sel, jaringan, organ, protoplasma, yang ditumbuhkan secara mandiri yang pada akhirnya akan menghasilkan regenerasi tanaman lengkap yang mempunyai sifat sama seperti induknya dalam keadaan yang aseptis.

Karena abaca secara morfologi tidak jauh berbeda dengan pisang lainnya, maka teknik kultur in vitro dimungkinkan dapat menghasilkan bibit-bibit abaca yang seragam dan berproduksi tinggi. Petani pada umumnya sangat menyukai bibit hasil kultur in vitro karena bila dibandingkan dengan bibit asal biji atau anakan biasa, bibit pisang hasil kultur jaringan atau in vitro pertumbuhannya lebih pesat, seragam, dapat disediakan dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dan bebas patogen berbahaya. Teknik ini bisa diimplementasikan di Talaud untuk proses konvervasi bibit abaka sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan kualitas bibit pisang abaka.

Untuk mengoptimalkan program pengembangan abaka di Talaud, diperlukan koordinasi dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat serta pihak ketiga (investor/perusahaan). Selain itu, proses konservasi dengan teknik kultur jaringan sangat perlu dilakukan sehingga memaksimalkan kualitas bibit dan meningkatkan hasil produksi. Sikap konsisten diperlukan agar pengembangan tanaman abaka sebagai biodiversitas mampu menjadi salah satu produk unggulan baru selain kopra, cengkih, pala dan hasil laut dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi, mendorong peningkatan pendapatan masyarakat dan pemerintah setempat serta demi kemakmuran bersama. (*)