Wujudkan Remaja Putri Indonesia Cantik Berseri Tanpa Anemia, PKM LPPM dan FKM Unsrat Gelar Penyuluhan Kesehatan di Wori

oleh -
Foto bersama Ketua Tim PKM Unsrat Maureen Punuh bersama sejumlah remaja yang mengikuti penyuluhan kesehatan di Desa Wori.

MANADO — Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang difasilitasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menggelar penyuluhan kesehatan pada remaja putri di Desa Wori, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Penyuluhan kesehatan tentang anemia gizi besi dan pola makan dengan prinsip gizi seimbang pada remaja putri yang bekerja sama dengan Puskesmas Wori, dilaksanakan di Gedung Gereja GMIM Imanuel dan GPdI Hosana pada 24-25 Oktober lalu.  “Penyuluhan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia gizi besi dan pola makan dengan prinsip gizi seimbang pada remaja putri di Desa Wori ini,” ujar Ketua Tim PKM Maureen I. Punuh.

Ia menjelaskan, penyuluhan ini menyasar para remaja karena merupakan salah satu kelompok rawan penderita anemia. Berdasarkan data prevalensi anemia gizi besi di Indonesia pada kelompok umur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% pada umur 15-24 tahun. “Anemia pada remaja putri berdampak pada sulitnya berkonsentrasi yang menyebakan penurunan prestasi belajar, mudah lelah dan sakit karena daya tahan tubuh rendah, sehingga lebih jarang masuk sekolah serta aktifitas fisik menurun. Selain itu, Anemia gizi besi pada remaja putri juga dapat berdampak di masa depan seperti kematian ibu yang tinggi, peluang melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, ataupun kematian janin,” beber Maureen.

Kegiatan ini sendiri disambut antusias Ketua BPMJ dan pengurus remaja GMIM Imanuel dan Gembala serta pengurus pemuda dan remaja GPdI Hosana Wori. “Diakhir sesi, Tim PKM membagikan masker, hand sanitizer dan face shield serta menjelaskan cara penggunaannya sebagai bagian dari komitmen tim dalam pencegahan dan penanggulangan covid-19 yang terjadi saat ini. Diharapkan, dengan peningkatan pengetahuan ini dapat menjadi modal dasar penerapan pola konsumsi terkait pencegahan anemia dan menjadikan remaja putri Indonesia ‘cantik berseri tanpa anemia’,” pungkas Maureen. (fernando rumetor/get)