“Virtual Hospital, Adaptasi Konsep Hospital Without Wall Dari Alajuela Costa Rica ke Manado Indonesia”

oleh
Dokter Pemerhati Kesehatan Masyarakat, dr. Enriko H. Rawung, MARS. (istimewa)

_’Hospital without wall’_ adalah sebuah konsep rumah sakit tanpa batas yang pertama kali diadopsi oleh sebuah puskesmas di Palmares, Provinsi Alajuela, Costa Rica pada tahun 1950-an. Konsep ini memuat perencanaan dan tata laksana perawatan kesehatan dengan melibatkan semua pihak secara efektif dan komprehensif.

Dahulu, akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit hanya terbatas bagi kalangan tertentu. Akhirnya, konsep ini hadir untuk membuat pelayanan rumah sakit menjadi inklusif dan terbuka untuk siapa saja. Konsep _’Hospital without wall’_ pun turut menginspirasi berbagai puskesmas lainnya di Alajuela, seperti San Ramon, Alfaro Ruiz, Naranjo, dan Valverde Vega.

Adapun keberhasilan program ini sanggup menurunkan angka kematian bayi dari 19,4% menjadi 11,5%(1973-1995), bayi baru lahir dengan risiko tinggi dari 11% menjadi 6,5% (1970-1985), dan menurunkan kasus-kasus penyakit infeksi parasit dari 83% menjadi 33%. Dengan keberhasilan yang telah diraih, pemerintah setempat akhirnya turut mendukung konsep ini dan menjadikannya sebagai gerakan nasional. Program ini pun akhirnya juga memberi pengaruh hingga di tingkat internasional, serta diadopsi di berbagai tempat dan negara hingga saat ini.

Apabila melihat pada situasi pandemi COVID-19 saat ini, konsep ‘_Hospital without wall_’ dibutuhkan dalam berbagai jenis pelayanan kesehatan. Pasien yang terkonfirmasi positif bergejala ringan dan hanya perlu melakukan isolasi mandiri di rumah, namun mereka tetap membutuhkan penanganan profesional dari para dokter dan perawat. Dengan dukungan teknologi informasi dan adaptasi konsep _’Hospital without wall’_ maka kita dapat membentuk pelayanan kesehatan berbasis _virtual hospital_. Pasien-pasien yang melaksanakan isolasi mandiri dapat dirawat secara daring hingga kembali sehat. _Virtual hospital_ akan mengkoordinasi secara sistematis peran dari seorang dokter, perawat, case manager, hingga orang-orang yang tinggal serumah dengan pasien sebagai upaya penyembuhan terhadap penderita COVID-19.

Namun, untuk mengimplementasikan program _virtual hospital_ tersebut, dibutuhkan kolaborasi dan sinergi dari berbagai _stakeholder_—antara lain rumah sakit yang memiliki ijin dan terakreditasi, laboratorium klinik, puskesmas setempat, serta penyedia teknologi informasi yang berpengalaman dalam implementasi _telemedicine_. Tentunya, dukungan pemerintah setempat seperti yang dilakukan pemerintah Costa Rica sangat dibutuhkan bagi keberhasilan dan replikasi program ini untuk memperluas jangkauan skala dan variasi layanan. Pada gilirannya, konsep ini diharapkan dapat membangun sinergi dalam pengendalian pandemi COVID-19 di Kota Manado, bahkan hingga seluruh Indonesia. (*)