Penjualan Mobil Bekas Menurun, Showroom Berharap Bantuan Pemerintah 

oleh -
Salah satu Showroom yang melayani jual-beli mobil bekas di Kota Manado. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO – Adanya pandemi Covid-19 membuat banyak usaha terdampak. Salah satunya yakni usaha Showroom jual beli mobil bekas. Dampak pandemi dialami langsung oleh Alfrets Lontoh, pemilik Crislen Showroom yang berlokasi di Paal Dua.

Kata Alfrets, sejak pandemi melanda Kota Tinutuan ini sejak Maret 2020, penjualan mobil bekas dari Showroomnya mengalami penurunan yang signifikan. “Waktu Covid-19 itu menyerang tahun lalu, daya beli masyarakat untuk mobil bekas sangat kurang,” ujarnya kepada wartawan KORAN SINDO MANADO, Selasa (9/2/2021).

Dalam sebulan, ia hanya mampu menjual 1-2 mobil. Padahal dalam keadaan normal ia bisa menjual lebih dari itu. Belum lagi, kata dia, beberapa finance pembiayaan kredit kepemilikan kendaraan bermotor tidak menerima usulan pembiayaan serta pencairan dana dari finance yang mengalami penurunan.

“Daya beli masyarakat sangat berpengaruh. Tahun 2020 itu sangat sepi, bahkan ada waktu dimana dalam satu bulan itu saya tidak menjual satu mobil pun. Juga tahun lalu itu banyak masyarakat yang menjual mobilnya kepada kita karena mungkin memerlukan uang. Tapi memang kita selektif dalam memilih mobil yang akan kita jual kembali,” pungkasnya

Alfrets menyebut, penjualan mobil bekas di Showroomnya baru mulai membaik September 2020, yang juga didorong adanya perbaikan dari sisi pembiayaan dari finance yang telah mulai memberikan pembiayaan kredit kepemilikan kendaraan bermotor. “Disamping kita juga terus melakukan marketing lewat sosial media,” bebernya.

Di sisi lain, Alfrets meminta agar pemerintah bisa lebih memperhatikan kalangan pengusaha Showroom jual beli mobil bekas di Kota Manado. Sebab, para Showroom inilah salah satu yang berkontribusi besar dalam pemasukan daerah, lewat pembayaran pajak kendaraan bermotor.

“Sumbangsih Showroom untuk membayar pajak kendaraan bermotor itu luar biasa. Banyak mobil yang kita beli dari orang itu tidak jalan pajaknya 2-3 tahun, sehingga kita yang melunasi pajak mobil tersebut. Bayangkan saja kalau sebulan kita mengambil 10 mobil, sudah berapa itu pajaknya yang kita bayarkan ke pemda,” jelasnya.

“Kalau tidak ada Showroom, bisa saja ada mobil yang sudah 10 tahun tidak membayar pajak kan. Selain itu, harapan kita juga agar perekonomian di Sulut segera membaik sehingga bisa membuat daya beli masyarakat kembali meningkat. Bagi saya yang penting ada mobil yang terjual daripada tidak terjual sama sekali,” harap Alfrets. (Fernando Rumetor)