Pelaku Usaha di Sulut Menjerit, Pemerintah Diharapkan Dorong Daya Beli 

oleh -
MANADO – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda dunia, Indonesia, bahkan Sulawesi Utara (Sulut) saat ini membuat hampir seluruh sektor terdampak akibat dari virus korona.

Tak terkecuali para pengusaha dan pedagang yang ada di salah satu pasar di Kota Manado yakni Pasar 45. Kendati saat ini pemerintah terus mendengungkan pemulihan ekonomi nasional (PEN), namun nyatanya para pengusaha ini masih sangat terdampak.

“Omzet sekarang ya jauh menurun pak kalau dibandingkan dengan 2019, sebelum ada korona korona ini. Saya tidak mau bilang angka, tapi cukup jauh penurunannya,” tukas salah seorang pengusaha barang elektronik, Aldi (bukan nama sebenarnya), kepada harian ini, Senin (24/5/2021).

Dikatakannya, saat ini hampir tak ada jenis usaha yang baik-baik saja, semua pasti mengalami pukulan dari pandemi Covid-19 ini. “Bahkan dari Presiden hingga rakyat paling bawah pasti bebannya bertambah banyak karena pandemi ini,” ungkapnya.

Menurut Aldi, saat ini walaupun pengusaha itu memiliki modal yang besar, akan tetapi besar pula terpaan masalah yang dihadapi. “Ibarat pohon kelapa yang semakin tinggi, semakin laju juga angin yang menghantam. Resikonya lebih besar,” kata Aldi.

“Saat ini kita berusaha dan hidup hanya untuk bertahan. Bertahan sampai kapan? nah itu tergantung dari daya tahan keuangan masing-masing pengusaha. Jauh memang pengurangan pendapatannya sekarang. Jadi ya kita bertahan saja,” sebutnya.

Kata dia, saat ini pengusaha ibaratnya hanya beradu cadangan keuangan dan finansial. “Siapa yang pintar menyimpang, maka dia yang akan bertahan. Adu daya tahanlah intinya. Kalau tidak ya akan susah juga,” pungkas Aldi.

Dirinya pun hanya berharap agar pandemi ini cepat berakhir. “Kalau untuk pemerintah kita hanya pesan agar tetap menjaga kedamaian dan keamanan yang ada. Hanya itu saja. Kalau pengusaha toh tetap mau bagaimanapun harus bertahan hidup,” tuturnya.

Sementara itu, hal yang sama diutarakan Ira (bukan nama sebenarnya), seorang pegawai di Toko Dua Putri yang menjual pakaian dan baju-baju perempuan. Menurutnya, penjualan baju sangat menurun saat pandemi melanda.

“Ya bisa dikatakan penjualan kita berkurang drastis. Memang ada kalanya penjualan meningkat seperti momen lebaran baru-baru ini, tetapi banyak kali juga pembeli sepi pak. Omset jauh menurun dibanding tahun 2019,” tukas Ira kepada harian ini, kemarin.

Lanjutnya, hal ini tak lepas dari pandemi Covid-19 yang membuat orang lebih menahan diri berbelanja. Imbasnya, gajinya pun mendapatkan potongan dari sang pemilik toko. “Ya gaji kita sesuai penjualan, pendapatan toko. Makanya sulit juga,” imbuhnya.

Kata Ira, dirinya bersama para karyawan lainnya hanya berharap agar pandemi segera bisa tertangani oleh pemerintah, sehingga kehidupan bisa berjalan normal kembali seperti biasanya. “Harapan kita ya pandemi berakhir dan jadi normal lagi,” ucap Ira.

Terkait hal ini, Pengamat Ekonomi Sulut Robert Winerungan menilai bahwa keluhan-keluhan seperti ini dari para pengusaha tak bisa dihindari. Menurutnya, kata kunci yang harus dipegang oleh pengusaha adalah ‘sabar’.

“Harus sabar, karena apa? karena kalau kita terus berharap dari pemerintah, anggaran yang ada juga bisa dibilang terbatas dan pastinya tidak bisa mengakomodir untuk seluruh, 100% usaha yang ada di Indonesia,” pungkasnya saat dihubungi via telepon, Senin (24/5/2021).

Dijelaskan Winerungan, memang saat ini pendapatan juga menurun akibat penerimaan pajak yang belum terlalu maksimal. Penerimaan yang tak maksimal dikarenakan banyak wajib pajak yang terdampak pandemi Covid-19 saat ini.

“Kadang-kadang penerimaan pajak hanya 80% dari target. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, penerimaan pajak kita sekarang kan menurun. Pajak dari pengusaha maupun PAD di provinsi hingga kabupaten/kota pun menurun,” ungkapnya.

Lanjut dikatakan Winerungan, disatu sisi fiskal pemerintah sedang lemah, lalu disisi lain pemerintah pun harus diperhadapkan untuk menangani sektor kesehatan. “Oleh karena itu, para pengusaha diharapkan tetap bertahan dahulu,” tuturnya.

Ekonom dari Universitas Negeri Manado (Unima) itu pun menilai, satu-satunya harapan pemerintah untuk memutar lebih cepat lagi roda perekonomian kita ialah dengan mendorong konsumsi dan daya beli masyarakat.

“Kalau masyarakat sudah ada kemampuan membeli, maka akan perlahan-lahan bisa kembali seperti dahulu. Kemampuan membeli karena ada daya beli. Nah daya beli ini kan bisa meningkat kalau pendapatan masyarakat meningkat,” terangnya.

Karenanya, pemerintah pun terus menggencarkan stimulus untuk mendorong daya beli masyarakat, khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN). Lewat dikucurkannya Tunjangan Hari Raya (THR) dan pada bulan Juni 2021 ini akan diberikan Gaji ke-13 kepada par ASN.

“THR, Gaji ke-13 dan stimulus lainnya itu diberikan sejatinya untuk mendongkrak masyarakat agar memiliki kemampuan membeli. Jadi ya walaupun kemampuan membeli ini naiknya hanya sedikit, tapi di 2021 ini sudah mulai bagus jika dibandingkan tahun lalu,” lihatnya.

“Makanya pengusaha ini harus bertahan sedikit dahulu. Tatkala Covid-19 ini selesai dan orang sudah leluasa bekerja, maka pendapatan para pengusaha pun akan meningkat. Pasti kok ekonomi kita akan kembali lagi seperti sebelum 2020,” tambahnya.

Winerungan pun menyebut bahwa pengusaha pun tak bisa berharap banyak bahwa pendapatan akan segera mendekati sama seperti sebelum pandemi. “Kalau meningkat-meningkat sedikit ya bisalah untuk tahun 2021, akhir tahun ini,” tuturnya.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut per Februari 2021 bahwa jumlah angkatan kerja pada Februari 2021 sebanyak 1,229 juta orang, naik 3,99 ribu orang jika dibanding Agustus 2020.

“Penduduk yang bekerja sebanyak 1,14 juta orang, meningkat sebanyak 4,77 ribu orang dari Agustus 2020. Meski demikian Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mengalami penurunan tipis sebesar 0,14% poin,” ujar Kepala BPS Sulut, Asim Saputra, beberapa waktu lalu.

Dikatakannya, Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Februari 2021 sebesar 7,28%, turun 0,09% poin dibandingkan dengan Agustus 2020. “Persentase pekerja setengah penganggur turun sebesar 1,12% poin, begitu juga persentase pekerja paruh waktu turun sebesar 0,58% poin dibandingkan Agustus 2020,” sebutnya.

Untuk pengangguran sendiri, beber Asim, tercatat sebesar 89.468 orang. Angka ini mengalami penurunan sebesar 780 orang jika dibandingkan dengan data yang dirilis BPS Sulut per Agustus 2020 lalu

Nah, kata Asim, terdapat sekira 144,21 ribu orang atau 7,43% penduduk usia kerja yang terdampak oleh Covid-19. “Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 sebanyak 9,82 ribu orang, Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 sebanyak 6,23 ribu orang,” paparnya.

Kemudian, orang yang sementara tidak bekerja karena Covid-19 ada sebanyak 5,68 ribu orang dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 tercatat sebanyak 122,49 ribu orang.

“Keempat komponen tersebut mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2020. Penurunan terbesar adalah komponen penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 sebanyak 112,34 ribu orang,” beber Asim. (Fernando Rumetor)