Bersepeda Sehatkan Jantung, Tapi Mengapa Banyak yang Meninggal Karena Serangan Jantung?

oleh -
Tercatat lebih dari 20 orang pesepeda meninggal karena serangan jantung saat bersepeda. (Foto: istimewa)

JAKARTA – Bersepeda seharusnya sehat, karena bisa mengurangi risiko terkena serangan jantung hingga 15 persen. Ironisnya, dalam 3 tahun terakhir tercatat lebih dari 20 orang meninggal dunia akibat serangan jantung saat bersepeda.

Yang terbaru adalah John, 62, pesepeda road bike yang meninggal dunia ketika melintas Layang Non Tol (JLNT) Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta, pada Ahad (23/5) silam. John diduga meninggal karena serangan jantung. Sebab, setelah dikonfirmasi, keluarga John juga mengaminkan bahwa mendiang punya riwayat jantung.

Padahal, pria tersebut diketahui berpengalaman naik sepeda road bike dan hampir setiap hari bersepeda. Ia diduga kelelahan saat bersepeda di JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang.

Apa sebenarnya penyebab serangan jantung saat bersepeda? Menurut Yayasan Jantung Indonesia, serangan jantung (heart attack) saat bersepeda adalah tersumbatnya aliran darah menuju jantung sehingga menghentikan suplai oksigen ke jantung. Dampaknya, terjadi henti jantung (cardiac arrest), yakni terganggunya pemompaan darah ke jantung.

Lalu, bagaimana cara bersepeda yang menyehatkan jantung dan bukan menaikkan risiko serangan jantuh?

Yayasan Jantung Indonesia menyebut bahwa pesepeda sebaiknya menjalani kegiatan bersepeda secara bertahap mempertimbangkan FITT (frequency, intensity, time, dan type). Selainn itu, pesepeda harus memperhatikan detak jantungnya. Bagaimana mengukurnya?

Cara mengkur detak jantung maksimal adalah 220 dikurangi dengan usia (umur saat ini). Misalnya usia 38 tahun, maka detak jantung maksimalnya adalah 220 – 38 = 182 bpm.

Lalu, perhatikan juga intensitas latihan seperti ini:

-Intensitas latihan sedang: 50 – 70 persen dari denyut jantung maksimal.

-Intensitas latihan kuat: 70 – 85 persen denyut jantung maksimal.

”Tips lain, agar denyut jantung tidak melampaui batas maksimal, pesepeda harus meningkatkan intensitas secara bertahap, berlaku saat pemanasan dan pendinginan,” tulis booklet mereka.

Yayasan Jantung Indonesia juga menyebut bahwa pesepeda jangan pernah mengabaikan tanda-tanda seperti nyeri pada dada, pandangan kabur atau tidak jelas, nafas menjadi brat, detak jantung tidak teratur, kehilangan keseimbangan, serta timbul keringan dingin.

”Silahkan konsultasi dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah jika memiliki risiko penyakit jantung,” bebernya.

(sumber: sindonews.com)