BI Sulut Apresiasi Responden Berikan Data Akurat untuk Pemulihan Ekonomi Nyiur Melambai

oleh
Kepala KPw BI Sulut, Arbonas Hutabarat saat berbicara dalam acara Temu Responden yang digelar KPw BI Sulut. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO – Kantor Perwakilan (Kpw) Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) kembali menggelar kegiatan tahunan Temu Responden di Four Points by Sheraton Manado, Rabu (13/10/2021).

Dalam kegiatan yang mengambil tema “Mendorong Pemulihan Ekonomi Sulut Melalui Kebijakan Pro Ekspor” itu, Kepala KPw BI Sulut, Arbonas Hutabarat mengapresiasi para responden yang telah memberikan data akurat kepada BI Sulut.

“Temu responden ini bertujuan untuk mempererat kerjasama dan hubungan baik yang telah terjalin selama ini. Kami sangat mengapresiasi responden yang setia memberikan data, sehingga kami bisa mendapatkan data yang akurat,” ungkap Arbonas.

Dikatakannya, di Bumi Nyiur Melambai sendiri BI Sulut memiliki hampir 400 responden yang terdiri dari berbagai sektor lapangan usaha. “Karena itu kami percaya diri membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang bisa dipakai Pemprov Sulut,” tuturnya.

Menurut Arbonas, sejalan dengan perkembangan vaksinasi yang terus berjalan serta pelonggaran aktivitas ekonomi termasuk pembukaan kembali operasional toko dan pusat perbelanjaan maka berdampak pada pemulihan perekonomian Sulawesi Utara, yang pada tahun 2021 ini diprediksi akan kembali pulih.

Salah satunya lewat ekspor ke luar negeri. Pada triwulan II 2021 ekspor luar negeri provinsi Sulut tercatat USD 291,75 Juta atau tumbuh sebesar 44,54% (yoy), menguat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 32,04% (yoy).

“Sumber daya alam (SDA) memegang peranan penting dalam struktur ekspor luar negeri Sulawesi Utara. Komoditas minyak nabati merupakan komoditas utama ekspor luar negeri Sulut,” kata Arbonas.

Secara rata-rata, pada tahun 2020 minyak nabati memiliki share 50% terhadap total ekspor Sulut dengan nilai USD 386,17 Juta. Dari jumlah tersebut, minyak kelapa kopra dan turunannya memiliki share 35,37%, minyak kelapa sawit dan turunannya sekitar 9,13%, dan minyak biji sawit sekitar 4,26%.

Disisi lain, pihaknya terus memperkuat upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang USD dalam transaksi antar negara. “Penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian perdagangan internasional menjadi suatu hal yang perlu terus didorong,” bebernya.

Bank Indonesia telah memulai implementasi kerjasama penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) antara Indonesia dengan beberapa negara mitra.

“Saat ini BI telah memiliki kerangka kerja sama LCS dengan beberapa negara mitra dagang utama, yaitu Jepang, Malaysia, Thailand, dan yang terbaru dengan China,” sebut Arbonas.

Sementara itu, Kepala Departemen Statistik BI Farida Peranginangin yang ikut hadir dalam acara ini menyanjung hasil survey responden di Sulut yang terbilang baik. Menurut Farida, tanpa responden yang baik surveynya kurang mencakup seluruh gambaran perekonomian.

“Semakin banyak responden merespon dengan baik dan jawabannya tepat, semakin berkualitas data BI. Dan itu menjadi dasar bagi BI menyusun asesmen kemudian menyusun kebijakan supaya tepat,” kata Farida di sela-sela kegiatan tersebut.

Disebutkannya bahwa data BI dapat digunakan oleh pengusaha untuk lebih memahami kondisi saat ini dan antisipasi ke depan. BI juga selama ini tidak hanya melakukan survey dan pengumpulan data tapi ikut mempublikasikan hasil analisa BI.

“Supaya dipakai oleh orang banyak termasuk pengusaha juga. Kalau mereka bisa melihat itu maka mereka bisa melihat gambaran keseluruhan Indonesia dari statistik yang dipublikasikan BI termasuk bagaimana kira-kondisi ke depan,” tutup dia.

Kegiatan yang dihadiri oleh para responden BI Sulut ini pun turut dimeriahkan oleh penampilan Ainun Idol yang membawakan 6 lagu. Serta doorprize menarik bagi para peserta.

Temu responden BI Sulut pun dilaksanakan dengan menggunakan protokol kesehatan yang ketat, hingga test antigen bagi mereka yang belum dua kali divaksinasi Covid-19. (fernando rumetor)