Bakal Naik Jadi Kategori 8, Bandara Internasional Sam Ratulangi Siap Layani Airbus 330-300

oleh
GM Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Minggus E.T Gandeguai saat memaparkan persiapan menuju PK kategori 8. (Foto: Fernando Rumetor)

MANADO – Bandar Udara (Bandara) Internasional Sam Ratulangi Manado tengah bersiap untuk naik kategori menjadi Bandara dengan pemadam kebakaran (PK) kategori 8 di tahun 2022 mendatang.

Hal itu diungkapkan oleh General Manager (GM) Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Minggus E.T Gandeguai saat bertemu awak media dalam bincang santai, Kamis (23/12/2021).

“Sekarang kita PK kategori 7. Mudah-mudahan awal tahun depan kita akan naik ke kategori 8 dan nantinya bisa melayani Airbus 330-300. Sudah ada dua maskapai yang minat masuk ke Bandara Internasional Sam Ratulangi,” tuturnya.

Kedua maskapai itu ialah Garuda Indonesia dengan tujuan Narita, Jepang dan Lion Air dengan rute ke Tiongkok. “Awalnya mungkin digunakan untuk kargo, tetapi kedepannya kami berharap bisa digunakan juga untuk membawa penumpang,” beber Minggus.

Dirinya berharap dengan naik kategori 8 dan bisa mengakomodasi pesawat berbodi besar seperti Airbus 330-300, maka hal ini bisa sejalan dengan keinginan pemerintah daerah untuk menumbuhkan sektor pariwisata dan perdagangan di Sulut.

“Kita harapkan nanti kalau orang dari luar negeri mau ke Bali, bisa masuk dulu di Manado. Jadi penerbangan internasional-nya masuk di Manado dulu, khusus untuk daratan Asia Timur,” ungkap Minggus.

“Seperti Hongkong, Jepang, Tiongkok, semua yang mau menuju ke Bali maupun Jakarta kita harapkan bisa masuk ke Manado dahulu, kemudian dilanjutkan dengan penerbangan domestik,” tambahnya.

Dari sisi fasilitas sendiri, sebenarnya Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado sudah terbilang mumpuni. Apalagi saat ini, kata Minggus, progres perluasan area Bandara sudah mencapai angka 98%.

Masyarakat yang datang dari luar daerah pun sudah bisa menikmati keindahan gedung terminal kedatangan baru di Bandara kebanggaan warga Nyiur Melambai ini.

“Kami juga telah menempatkan spot-spot yang diisi oleh pemain musik yang memainkan alat musik tradisional Sulut seperti kolintang. Ini membuat mereka yang baru balik kampung bisa merasakan atmosfer tanah kelahirannya,” beber Minggus.(Fernando Rumetor)